Wednesday, January 20, 2010

Keringat Nabi S.A.W Yang Diberkahi


Keringat Sayyidina Muhammad S.A.W memiliki aroma wangi yang manis. Sayyidatina Ummu Salim r.ha, ibunda dari Sayyidina Anas r.a mengatakan bahwa Nabi tercinta S.A.W biasa mampir ke rumah Sayyidatina Ummu Salim r.ha untuk membuat qailula (istirahat setelah makan siang). Sayyidatina Ummu Salim r.ha selalu mempersiapkan alas tidur yang terbuat dari kulit binatang untuk beliau S.A.W berbaring. Beliau selalu berbaring di atas lembaran kulit tersebut dan banyak mengeluarkan keringat. Sayyidatina Ummu Salim r.ha kemudian mengumpulkan keringat yang diberkahi dari Nabi tercinta S.A.W dan mencampurnya dengan parfum. Nabi S.A.W bertanya, "Wahai Ummu Salim! Apa ini?" Dia (Sayyidatina Ummu Salim r.ha) berkata, "Ya Rasulallah S.A.W! Ini adalah keringat Anda yang diberkahi. Aku mencampurnya dalam parfum karena keringat Anda yang diberkahi adalah parfum yang terbaik di antara semua parfum." (Dikutip dari kitab Mishkaat dan Bukhari)


English version

The blessed perspiration of Sayyiduna Muhammad Mustapha (sallal laahu alaihi wasallam) possessed a sweet smelling fragrance. Sayyiduna Umme Salim (radi Allahu anha), the mother of Sayyiduna Anas (radi Allahu anhu), said that the beloved Prophet (sallal laahu alaihi wasallam) used to go to the house of Sayyiduna Umme Salim (radi Allahu anha) to make Qailula (rest after lunch). Sayyiduna Umme Salim (radi Allahu anha) used to lay for him a bedspread made from skin. He used to lie on that skin and he perspired very much. Sayyiduna Umme Salim (radi Allahu anha) used to collect the blessed perspiration of the beloved Prophet (sallal laahu alaihi wasallam) and mix it in perfume. The Prophet (sallal laahu alaihi wasallam) asked, "O Umme Salim! What is this?" She said, "Ya Rasoolallah (sallal laahu alaihi wasallam)! It is your blessed perspiration. I mix it in my perfume because your blessed perspiration is the best perfume amongst all perfumes." (Mishkaat Shareef; Bukhari Shareef)

Thursday, December 31, 2009

SUFILIVE Live Streaming


Stay tune on www.sufilive.com for next live streaming schedule. Check your local time using http://timeanddate.com.

Monday, October 26, 2009

Jadwal Kunjungan MSH di Indonesia (29 Okt - 7 Nov 2009)


JADWAL KUNJUNGAN MAWLANA SHAYKH HISYAM (MSH) KE INDONESIA
29 Oktober - 7 November 2009

Rabu, 28 Oktober 2009

14.00: Tiba di Jakarta
15.00: Penyambutan di Permata Hijau
Jl. Limo No. 7
RT 03/RW 05
Grogol Selatan, Kby. Lama
Jakarta Selatan

MALAM HARINYA TIDAK ADA ACARA


Kamis, 29 Oktober 2009

19.30: Dzikir & ceramah di Masjid Baitul Ihsan
Komp. Bank Indonesia, Jl. Budi Kemuliaan No. 23, Jakarta Pusat


Jumat, 30 Oktober 2009

11.00-13.00: Shalat Jumat di Masjid Baitul Ihsan
Komp. Bank Indonesia, Jl. Budi Kemuliaan No. 23, Jakarta Pusat

20.00: Dzikir & Maulid di Masjid Al Bina
Jl. Pintu Satu, Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan


Sabtu, 31 Oktober 2009

TBA


Minggu, 1 November 2009

VIP MEETING


Senin, 2 November 2009

10.00: berangkat ke Bali


Selasa, 3 November 2009

20.00: Zikir & ceramah di Masjid al-Ikhlash Sanur
Dekat Sanur Beach Hotel


Rabu, 4 November 2009

20.00: Zikir & ceramah di Villa Kampungku
Jl. Danau Tamblingan 75A, Sanur


Kamis, 5 November 2009

19.00: Maulid di Pesantren Darul Islah, Warung Buncit, Jakarta Selatan
(dekat masjid As-Salafiyah)


Jumat, 6 November 2009

11.00: Hajjah Nazihe memimpin Ladies Dhikr, MSH ke Masjid Pondok Indah

14.00: Ceramah Spiritual di Paramadina

19.00: Tabligh Akbar bersama Habib Jindan bin Novel, Ustadz Jefri Bukhori
K.H. Amir Hamza, Ust.Asfa Davi Bya


Sabtu, 7 November 09

19.00: Acara khusus untuk murid di Hall Arifin Panigoro
Universitas Al-Azhar, Jl. Sisingamangaraja, Jakarta Selatan


Minggu, 8 November 2009

11.00: Berangkat ke Singapura



Informasi lebih lanjut:

Yayasan Haqqani Indonesia
Jl. Teuku Umar No.41 Menteng
Jakarta Pusat, INDONESIA
Tel/fax: +6221 315 3014
Mobile: +62813 8497 1997
Email: yayasan_haqqani_indonesia@yahoo.com
www.naqsybandi.web.id

Sunday, March 1, 2009

Mawlana Shaykh Nazim memperkenalkan Mawlana Shaykh Hisyam

9 Januari 2008 - Mawlana Shaykh Hisyam Kabbani tiba di Lefke, Cyprus dalam kunjungan beliau kepada Sulthan-ul-Awliya Mawlana Shaykh Nazim. Dalam video ini, Shaykh Nazim memperlihatkan kegembiraannya atas kedatangan Shaykh Hisyam Kabbani dan beliau memberitahukan kepada yang hadir saat itu mengenai status dan realitas Mawlana Shaykh Hisyam sebagai perwakilan beliau.

Friday, February 27, 2009

Penciptaan Nur Muhammad SAW

Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Dikutip dari http://nurmuhammad.com/NurNabi/creationlightofmuhammad.htm
Alih bahasa oleh Syaikh Sutono



Suatu hari Sayyidina Ali, karam Allahu wajhahu, misan dan menantu Nabi Suci SAW bertanya, “Wahai Muhammad SAW, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon ceritakanlah padaku apa yang diciptakan Allah SWT sebelum semua makhluk diciptakan?”

Berikut ini adalah jawaban beliau yang indah:

Sesungguhnya, sebelum Rabb-mu menciptakan yang lainnya, Dia menciptakan Nur Nabimu dari Nur-Nya, dan Nur itu diistirahatkan haithu masyaAllah, di mana Allah SWT menghendakinya untuk beristirahat. Dan pada waktu itu tidak ada hal lainnya yang hadir – tidak ada Lawhul Mahfuzh, tidak ada Qalam, Surga maupun Neraka, tidak ada Malaikat Muqarrabin (Angelic Host), tidak ada langit maupun bumi; tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jinn, manusia ataupun malaikat – belum ada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.

Kemudian Allah SWT, Subhanallah, dengan Iradat-Nya, Dia menghendaki adanya ciptaan. Dia kemudian membagi Nur ini menjadi empat bagian. Dari bagian pertama Dia menciptakan Qalam, dari bagian kedua Lawhul Mahfuzh, dari bagian ketiga Arsy.

Kini telah diketahui bahwa ketika Allah SWT menciptakan Lawhul Mahfuzh dan Qalam, pada Qalam itu terdapat seratus simpul, jarak antara kedua simpul adalah sejauh dua tahun perjalanan. Allah SWT kemudian memerintahkan Qalam untuk menulis, dan Qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus kutulis?” Allah SWT berkata, “Tulislah: laa ilaha illAllah, Muhammadan Rasulullah SAW.” Terhadap hal itu Qalam berseru, “Oh, sungguh sebuah nama yang indah dan agung - Muhammad SAW- bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, yaa Allah.”

Allah SWT kemudian berkata, “Wahai Qalam, jagalah kelakuanmu! Nama ini adalah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya Aku menciptakan Arsy, Qalam dan Lawhul Mahfuzh; jadi engkau juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun.” Ketika Allah SWT telah mengucapkan kalimat tersebut, Qalam itu terbelah dua karena takutnya terhadap Allah SWT, dan tempat dari mana ucapannya tadi keluar menjadi tertutup/terhalangi dan hingga kini ujungnya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak lagi menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung. Oleh sebab itu, jangan sampai ada satu orang pun yang gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci SAW, atau menjadi lalai dalam mengikuti suri teladan beliau yang baik, atau membangkang dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.

Kemudian Allah SWT memerintahkan Qalam untuk menulis. “Apa yang harus aku tulis, Ya Allah?” tanya Qalam. Kemudian Rabbal `Alamin berkata, “Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan!” Qalam berkata, “Ya Allah, dari mana aku harus memulai?” Allah SWT berfirman, “Kamu harus memulai dengan kata-kata ini, Bismillah al-Rahmaan al-Rahiim.” Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian Qalam bersiap untuk menulis kata-kata itu pada Lawhul Mahfuzh, dan dia menyelesaikan tulisan itu dalam waktu 700 tahun.

Ketika Qalam telah menulis kata-kata itu, Allah SWT berbicara dan berkata, “Engkau telah memakan waktu 700 tahun untuk menulis tiga Nama-Ku; Nama Keagungan-Ku, Kasih Sayang-Ku dan Empati-Ku. Tiga kata-kata yang penuh berkah ini Aku buat sebagai hadiah bagi ummat Kekasih-Ku Muhammad SAW.”

Dengan Keagungan-Ku, Aku berjanji bahwa bilamana hamba mana pun dari ummat ini menyebutkan kata ‘Bismillaah’ dengan niat yang murni, Aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuknya, dan 700 tahun dosa akan Ku hapuskan.”

Kemudian bagian keempat dari Nur itu, Aku bagi lagi menjadi empat bagian:

Dari bagian yang pertama Aku ciptakan Malaikat Penyangga Singgasana (hamalat al-`Arsy);

Dari bagian kedua Aku telah ciptakan Kursi, majelis Ilahiah (Langit atas yang menyangga singgasana Ilahiah, `Arsy);

Dari bagian ketiga Aku ciptakan seluruh malaikat langit lainnya;

Dan bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian: dari bagian pertama, Aku membuat semua langit; dari bagian kedua, Aku membuat bumi-bumi; dari bagian ketiga, Aku membuat Jinn dan api. Bagian keempatnya Aku bagi lagi menjadi empat bagian: dari bagian pertama, Aku membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; dari bagian kedua Aku membuat cahaya di dalam hati mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiah; dari bagian ketiga, Ku-ciptakan cahaya bagi lidah mereka yang adalah cahaya Tawhid (Hu Allahu Ahad); dan dari bagian keempat, Aku membuat berbagai cahaya dari ruh Muhammad SAW.

- Ruh yang cantik ini diciptakan 360.000 tahun sebelum penciptaan dunia ini.
- Ruh itu dibentuk dengan sangat cantik dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan.
- Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati.
- Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah SWT).
- Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan.
- Pipinya dari cinta dan kehati-hatian,
- Perutnya dari tirakat terhadap makanan dan hal-hal keduniaan.
- Kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus.
- Hatinya yang mulia dipenuhi dengan rahman.

Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat dan dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalah-Nya dan kualitas kenabiannya dipasang.

Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah dipasangkan pada kepalanya yang penuh berkah, masyhur dan tinggi di atas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan diberi nama Habibullah (Kekasih Allah SWT) yang murni dan suci.

Dua belas Tabir {12 Bulan, 12 Rabiul Awal, 12 suku, 12 Menunjukkan Penuntasan}

Sesudah itu Allah SWT menciptakan dua belas tabir.

Pertama adalah Tabir Kekuatan di mana Ruh Nabi SAW bermukim (tinggal) selama 12.000 tahun, membaca Subhana rabbi al-’ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi).

Kedua adalah Tabir Kebesaran di mana dia ditutupi selama 11.000 tahun, mengucapkan, Subhanal ’Alim ul-Hakim (Maha Suci Rabb-ku, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana).

Dia dipingit selama 10.000 tahun dalam Tabir Kebaikan, mengucapkan Subhana man huwa da’im, la yaqta (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Abadi, Yang Tidak Berakhir).

Tabir keempat adalah Tabir Rahman, di situ ruh mulia itu tinggal selama 9.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana-rafi’-al-`ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Ditinggikan, Maha Tinggi).

Tabir kelima adalah Tabir Nikmat, dan di situ ruh tinggal selama 8.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwa qa’imun la yanam. (Maha Suci Rabb-ku Yang Selalu Ada, Yang Tidak Tidur).

Tabir keenam adalah Tabir Kemurahan; di mana dia tinggal selama 7.000 tahun, memuja, Subhana-man huwal-ghaniyu la yafqaru (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Kaya, Yang Tidak Pernah Menjadi Miskin).

Kemudian diikuti tabir ketujuh, Tabir Kedudukan. Di sini ruh yang tercerahkan itu tinggal selama 6.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwal Khaliq-an-Nur (Maha Suci Rabb-ku Maha Pencipta, Sang Cahaya).

Berikutnya, Dia menyelimutinya dengan tabir kedelapan, Tabir Petunjuk di mana dia tinggal selama 5.000 tahun, memuja Allah SWT dan berkata, Subhana man lam yazil wa la yazal. (Maha Suci Rabb-ku Yang Keberadaan-Nya Tak Pernah Berhenti, Yang Tidak Musnah).

Kemudian diikuti tabir kesembilan, yaitu Tabir Kenabian di mana dia tinggal selama 4.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man taqarrab bil-qudrati wal-baqa. (Maha Suci Rabb-ku yang Mengajak Dekat dengan Maha Kuat dan Maha Langgeng).

Kemudian datang Tabir Keunggulan, tabir kesepuluh di mana ruh yang tercerahkan ini tinggal selama 3.000 tahun, membaca puji-pujian untuk Pencipta dari Semua Sebab, mengucapkan, Subhana dzil-’arsyi ‘amma yasifun. (Maha Suci Rabb-ku Pemilik Singgasana Di atas Semua Karakter Yang Dilekatkan Kepada-Nya).

Tabir kesebelas adalah Tabir Cahaya. Di sana dia tinggal selama 2.000 tahun, berdo`a, Subhana dzil-Mulk wal-Malakut. (Maha Suci Rabb-ku Maha Raja semua Kerajaan Langit dan Bumi).

Tabir kedua belas adalah Tabir Intervensi (Syafa’at), dan di sana dia tinggal selama 1.000 tahun, mengucapkan, Subhana-rabbi al-’azhim (Maha Suci Rabb-ku, Maha Anggun).

Penciptaan AHMAD SAW Tercinta

Setelah itu Allah SWT menciptakan sebuah pohon yang dikenal sebagai Pohon Kepastian.

Pohon ini memiliki empat cabang. Dia menempatkan ruh yang diberkahi tadi pada salah satu cabang, dan dia terus menerus memuja Allah SWT selama 40.000 tahun, mengucapkan, Allahu dzul-Jalaali wal-Ikram. (Allah SWT, Pemilik Keperkasaan dan Kebaikan).

Setelah dia memuja-Nya dengan cara demikian itu, dengan pepujian yang banyak dan beragam, Allah SWT menciptakan sebuah cermin, dan Dia meletakannya sedemikian hingga menghadap ruh Habibullah, dan memerintahkan ruh tersebut untuk memandangi cermin itu.

Ruh itu melihat ke dalam cermin dan melihat dirinya terpantul sebagai pemilik bentuk yang paling cantik, indah dan sempurna.

Dia kemudian membaca lima kali, Syukran lillahi ta’ala (terima kasih kepada Allah SWT, Maha Tinggi Dia), dan tersungkur dalam posisi sujud di hadapan Rabb-nya. Dia tetap bersujud seperti itu selama 100 tahun, mengucapkan Subhanal-aliyyul-azhim, wa la yajhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Tinggi, Maha Anggun, Yang Tidak Mengabaikan Apapun); Subhanal-halim alladzi la yu’ajjalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Toleran, Yang Tidak Tergesa-gesa); Subhanal-jawad alladzi la yabkhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Pemurah Yang Tidak Pelit).

Karena itulah Penyebab (adanya) makhluk mewajibkan ummat Muhammad SAW untuk melakukan sujud (sajda) lima kali dalam sehari – lima shalat - dalam kurun waktu siang hingga malam. Ini adalah sebuah hadiah kehormatan bagi ummat Muhammad SAW.

Dari Nur Muhammad SAW

Berikutnya Allah SWT menciptakan sebuah lampu jamrud hijau dari Cahaya,

· dan dilekatkan pada pohon tadi, melalui seuntai rantai cahaya.

· Kemudian Dia menempatkan ruh Muhammad SAW di dalam lampu itu dan memerintahkannya untuk memuja Dia dengan Nama Paling Indah (Asma al-Husna).

· Perintah itu dilakukannya, dan dia mulai membaca setiap satu dari Nama itu selama 1.000 tahun. Ketika dia sampai kepada Nama ar-Rahman (Maha Kasih), pandangan ar-Rahman jatuh kepadanya dan ruh itu mulai berkeringat karena kerendahan hatinya.

· Tetesan keringat jatuh dari dirinya, setiap tetes beraroma mawar berubah menjadi ruh seorang nabi menjadi nabi dan rasul.

· Mereka semua berkumpul di sekitar lampu di pohon itu, dan Allah Azza wa Jalla berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Lihatlah! Ini sejumlah besar nabi yang Aku ciptakan dari tetesan keringatmu yang menyerupai mutiara.”

· Mematuhi perintah itu, dia memandangi mereka, dan ketika cahaya mata itu menyentuh/menyinari objek tersebut, maka ruh para nabi itu sekonyong-konyong tenggelam dalam Nur Muhammad SAW, dan mereka berteriak, “Ya Allah, siapa yang menyelimuti kami dengan cahaya?”

· Allah SWT menjawab mereka, “Ini adalah Cahaya dari Muhammad SAW Kekasih-Ku, dan jika kalian akan beriman kepadanya dan menegaskan risalah kenabiannya, Aku akan menghadiahkan kepada kalian kehormatan berupa kenabian.”

· Dengan itu, semua ruh para nabi itu menyatakan iman mereka kepada kenabiannya, dan Allah SWT berkata, “Aku menjadi saksi terhadap pengakuanmu ini,” dan mereka semua setuju. Sebagaimana disebutkan di dalam al Quran yang Suci:

Dan ketika Allah SWT bersepakat dengan para nabi itu : Bahwa Aku telah memberi kamu Kitab dan Kebijakan; kemudian akan datang kepadamu seorang Rasul yang menegaskan kembali apa-apa yang telah apa padamu–kamu akan beriman kepadanya dan kamu akan membantunya; apa kamu setuju? Dia berkata. Dan apakah kamu menerima beban-Ku kepadamu dengan syarat seperti itu. Mereka berkata, ‘Benar kami setuju.’ Allah SWT berkata, ‘Bersaksilah demikian, dan Aku akan bersama kamu di antara para saksi.’

(Ali Imran, 3:75-76)

· Kemudian ruh yang murni dan suci itu kembali melanjutkan bacaan Asma ul-Husna lagi.

· Ketika dia sampai kepada Nama al-Qahhar, kepalanya mulai berkeringat sekali lagi karena intensitas dari al- Qahhar itu, dan dari butiran keringat itu Allah SWT menciptakan ruh para malaikat yang diberkati.

· Dari keringat pada mukanya, Allah SWT menciptakan Singgasana dan Hadirat Ilahiah, Kitab Induk dan Qalam, matahari, rembulan dan bintang -bintang.

· Dari keringat di dadanya, Dia menciptakan para ulama, para syuhada dan para mutaqin.

· Dari keringat pada punggungnya dibuatlah Bayt-al-Ma’mur (rumah surgawi), Kabatullah (Ka’bah), dan Bayt-al-Muqaddas (Haram Jerusalem), dan Rawdha-i-Mutahharah (kuburan Nabi Suci SAW di Madinah), begitu juga semua mesjid di dunia ini.

Dari keringat pada alisnya dibuat semua ruh kaum beriman, dan dari keringat punggung bagian bawahnya (sulbi, coccyx) dibuatlah semua ruh kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung.

Dari keringat di kakinya dibuatlah semua tanah dari timur ke barat, dan apa-apa yang berada di dalamnya. Dari setiap tetes keringat itulah ruh orang beriman atau tak-beriman dibuatnya. Itulah sebabnya Nabi Suci SAW disebut juga sebagai “Abu Arwah”, Ayah para Ruh. Semua ruh ini berkumpul mengelilingi ruh Muhammad SAW, berputar mengelilinginya dengan puji-pujian dan pengagungan selama 1.000 tahun; kemudian Allah SWT memerintahkan ruh-ruh itu untuk memandang ruh Muhammad SAW. Ruh-ruh tersebut mematuhinya.

Siapa Memandang kepada Ruh Muhammad SAW

Nah, di antara mereka yang pandangannya jatuh pada kepalanya ditakdirkan menjadi raja dan kepala negara di dunia ini. Mereka yang memandang pada dahinya menjadi pemimpin yang adil. Mereka yang memandang matanya akan menjadi hafiz Kalimat Allah SWT (yaitu seorang yang memegangnya ke dalam ingatannya). Mereka yang memandang alisnya akan menjadi pelukis dan artis. Mereka yang memandang telinganya akan menjadi orang yang menerima peringatan dan nasihat. Mereka yang melihat pipinya yang penuh berkah menjadi pelaksana karya yang bagus dan pantas. Mereka yang melihat mukanya menjadi hakim dan pembuat wewangian, dan mereka yang melihat bibirnya yang penuh berkah menjadi menteri.

Barang siapa melihat mulutnya akan menjadi orang yang banyak berpuasa. Barangsiapa yang melihat giginya akan menjadi kelihatan bagus/cantik, dan siapa yang melihat lidahnya akan menjadi utusan/duta raja-raja. Barang siapa melihat tenggorokannya yang penuh berkah akan menjadi khatib dan mu’adzin (yang mengumandangkan adzan). Barang siapa memandang janggutnya akan menjadi pejuang di jalan Allah SWT. Barang siapa memandang lengan atasnya akan menjadi seorang pemanah atau pengemudi kapal laut, dan barang siapa melihat lehernya akan menjadi usahawan dan pedagang.

Siapa yang melihat tangan kananya akan menjadi seorang pemimpin, dan siapa yang melihat tangan kirinya akan menjadi seorang pembagi (yang menguasai timbangan dan mengukur catu kebutuhan hidup). Siapa yang melihat telapak tangannya menjadi seorang yang gemar memberi; siapa yang melihat belakang tangannya akan menjadi kolektor. Siapa yang melihat bagian dalam dari tangan kanannya menjadi seorang pelukis; siapa yang melihat ujung jari tangan kanannya akan menjadi seorang kaligrafer, dan siapa yang melihat ujung jari tangan kirinya akan menjadi seorang pandai besi.

Siapa yang melihat dadanya yang penuh berkah akan menjadi seorang terpelajar, meninggalkan keduniaan (zuhud) dan berilmu. Siapa yang melihat punggungnya akan menjadi seorang yang rendah hati dan patuh pada hukum syariat. Siapa yang melihat sisi badanya yang penuh berkah akan menjadi seorang pejuang. Siapa yang melihat perutnya akan menjadi orang yang puas, dan siapa yang melihat lutut kanannya akan menjadi orang yang melaksanakan ruku dan sujud. Siapa yang melihat kakinya yang penuh berkah akan menjadi seorang pemburu, dan siapa yang melihat telapak kakinya menjadi orang yang suka bepergian. Siapa yang melihat bayangannya akan mejadi penyanyi dan pemain saz (lute). Semua yang memandang tetapi tidak melihat apa-apa akan menjadi kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung. Mereka yang tidak memandang sama sekali akan menjadi orang akan menyatakan bahwa dirinya adalah tuhan, seperti Namrud, Fir’aun dan sejenisnya.

Kini semua ruh itu diatur dalam empat baris.

· Di baris pertama berdiri ruh para nabi dan rasul,

· Di baris kedua ditempatkan ruh para orang suci, para sahabat Allah SWT;

· Di baris ketiga berdiri ruh kaum beriman, laki-laki dan perempuan;

· Di baris keempat berdiri ruh kaum tak-beriman.

Semua ruh ini tetap berada dalam dunia ruh di Hadirat Allah SWT sampai waktu mereka tiba untuk dikirim ke dunia fisik.

Tidak seorang pun tahu kecuali Allah SWT yang tahu berapa selang waktu dari waktu diciptakannya ruh penuh berkah Nabi Muhammad SAW sampai diturunkannya dia dari dunia ruh ke bentuk fisiknya itu.

Diceritakan bahwa Nabi Suci Muhammad SAW bertanya kepada Malaikat Jibril AS,

· “Berapa lama sejak engkau diciptakan?”

· Malaikat itu menjawab, “Ya Rasulullah SAW, aku tidak mengetahui jumlah tahunnya, yang aku tahu bahwa setiap 70.000 tahun seberkas cahaya gilang gemilang menyorot keluar dari belakang kubah Singgasana Ilahiah; sejak waktu saya diciptakan cahaya ini muncul 12.000 kali.”

· “Apakah engkau tahu apakah cahaya itu?” tanya Muhammad SAW.

· “Tidak, aku tidak tahu,” malaikat itu berkata. “Itu adalah Nur ruhku dalam dunia ruh,” jawab Nabi Suci SAW. Pertimbangkanlah kemudian, berapa besar jumlah itu, jika 70.000 dikalikan 12.000!


Wa min Allah at tawfiq

Sumber:
Muhammad SAW: The Messenger of Islam in Ottoman Turkish by Hajjah Amina Adil

Wednesday, February 18, 2009

Tahun Penuh Peluang

TAHUN PENUH PELUANG
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani
Hari Kamis, 1 Januari 2009
Lefke, Siprus
Diambil dari SufiLive.com

[Dituliskan oleh Khairiyah Siegel]

Terima kasih kepada Sri Rahayu Handayani yang telah berkenan menterjemahkan serta mem-posting suhbat ini ke milis Muhibbun Naqsybandi


Sebuah Pesan dari Mawlana untuk Kalian!

Au'dzu billahi min asy-syaitan ir-rajiim. Bismillahir-Rahmanir-Rahiim
Nawaytul-arbai'in, nawaytul-'itikaf, nawaytul-khalwah, nawaytul-riyadha, nawaytus-suluk, nawaytul-'uzlah lillahi ta'ala fi hadza'l-masjid

Ati' Allahu wa ati'ur-Rasul wa ulu'l-amri minkum. Madad, ya Sayyidi, ya Sultanu-l Awliya, Sayyidi Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani.


Pertama-tama, saya ingin sampaikan bahwa Mawlana meminta dan memerintahkan saya untuk menyampaikan kepada kalian bahwa beliau mencintai kalian, merindukan kalian dan kalian semua selalu berada dihati beliau. Dan insya Allah, apabila cuaca membaik beliau segera bersama kalian seperti biasanya, selalu bersama dengan siapapun yang datang berkunjung dan memerlukan nasehat.

Kadang Awliyaullah sulit dipahami. Dimana pun kalian berada, dimanapun kedudukan kalian. Bertahun-tahun bersama Awliyaullah, namun masih saja sangat sulit memahami setetes makna seorang wali. Dan seperti diketahui, Rasulullah SAW biasa bercakap-cakap dengan para Sahabat. Memberi mereka hadis, dari ucapan, mengajari Sahabat, menyampaikan pesan Allah SWT – melalui Kitab Suci al Qur'an dan melalui Sunnah Rasulullah SAW. Dan sebagaimana kalian ketahui bahwa tidak seorang sahabipun – artinya tidak seorang sahabatpun yang mengetahui segala hal. Maksud "segalanya" yaitu seorang sahabi tidak selalu hadir di tiap kesempatan bersama Rasulullah SAW saat beliau memberikan nasehat atau ajaran. Itulah mengapa sekarang kita melihat banyak kita kumpulan-kumpulan hadis-hadis Nabi SAW. Seorang Sahabi mengatakan ini, Sahabat yang lain berkata itu... Sahabat yang itu mendengar itu dari Rasulullah SAW. Beberapa sahabat mendengar 10 buah hadis, beberapa lagi mendengar 20 hadis, yang lain mendengar 100, 1.000 buah hadis. Namun dalam dasarnya, mereka semua tidak mendengar semua hadis itu pada waktu yang bersamaan.

Itulah mengapa terkadang beberapa Sahabat berkata: "Oh, kami tidak mendengar mengenai hal itu." Mereka biasanya menggunakan argumen-argumen ini; saya tidak akan menjelaskannya dengan detil, namun mereka biasanya menggunakan argumen ini diantara mereka sendiri. Salah satu dari mereka berkata: "Aku tidak mendengar itu" atau yang lain berkata: "Tidak, aku mendengarnya," dan yang lainnya berkata: "Tidak, aku tidak mendengarnya" atau yang lainnya berkata: "Tidak, aku mendengarnya ." Dan hadis lainnya. Hadis berubah dari satu ke yang lainnya, tidak semua dari Sahabat yang mendengarnya. Jika kalian mendengar sesuatu, saya tidak mendengarnya. Saya bisa saja memberitahu kalian: "Oh, saya tidak dengar tentang itu." Kalian mungkin memberitahu: "Tidak, saya tidak mendengar tentang itu."

Jadi, akan ada situasi seperti itu setelah masa Rasulullah SAW, dimana zaman tersebut masih ada para Sahabat. Dan zaman setelah Rasulullah SAW berulang, para Sahabat mengumpulkan hadis-hadis dan menyusunnya. Sebagai contoh. Misalnya Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq menyebutkan 24 atau 25 buah ahadis. Itu saja. Sayyidina Abu Bakar tidak menyebutkan lebih dari itu, meskipun beliau sangat dekat dengan Rasulullah SAW.

Allah SWT menyebutkan dalam Kitab Suci al Qur'an mengenai Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq radiallahu anhu, firman-Nya:

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Illa tanshuruuhu fa qad nasharahu Allahu idz akhrajahul ladziina kafaruu tsaaniyats naini idz humaa fil ghaari idz yaquulu li shaahibihii laa tahzan innAllaha ma'anaa fa anzalAllahu sakiinatahuu 'alaihi wa ayyadahu bi junuudil lam tarauhaa wa ja'ala kalimatal ladziina kafarus suflaa wa kalimatullahi hiyal 'ulya wAllahu 'aziizun Hakiim.
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [At Taubah (9):40]

Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina Abu Bakar, "Jangan bersedih, Allah bersama kita." Dan berapa hadis yang Sayyidina Abu Bakar riwayatkan? Hanya 24 atau 25 hadis! Dimanakah hadis yang lain?

Nah, yang ingin saya katakan dan simpulkan adalah sangatlah sulit untuk memahami Awliyaullah. Kalian mungkin mendengar sesuatu; saya mungkin mendengar sesuatu. Tergantung pada waktu, dan pada saat dan kesempatan tersebut, dimana maqam awliyaullah, di tingkat kenaikan yang mana seorang wali dihadapan Rasulullah SAW saat ia memberikan suatu nasehat.

Jika kalian perhatikan hadis-hadis Rasulullah SAW, sebuah hadis membahas sesuatu hal, kemudian hadis lainnya turun dengan lebih rinci dan membahas hal yang tidak disebutkan di hadis yang pertama. Mengapa? Karena, sebagai contoh, pertama kali Rasulullah SAW menyampaikannya sahabat ada katakanlah di tingkat X. Dilain waktu, ketika Rasulullah SAW mengalami kenaikan yang makin tinggi maka beliau bicara dari tingkat Z. Jadi, dari tingkat ke tingkat akan mengalami kenaikan atau mungkin saja berubah. Tergantung pada waktu dan situasinya.

Sangatlah penting memahami Awliyaullah karena mereka adalah pewaris Rasulullah SAW. Bagaimana cara memahami Awliyaullah? Suatu saat Awliyaullah mengatakan sesuatu tapi diwaktu lain mengatakan hal yang sama tapi lebih mendetil atau mungkin awliyaullah mengubahnya. Lalu kalian mulai berpikir, "Oh, apa maksud beliau?" Orang lain yang mendengarnya perkataan yang berbeda berkata, "Oh, tidak. Maksud beliau adalah ini." Itulah mengapa tidak semua orang dapat memahami seorang wali! Kita tidak dapat memahami Awliyaullah walau hanya setetes saja dari pengetahuan mereka.

Saya menghadap Mawlana Syaikh dan beliau berpesan, "Sampaikan cinta dan dukungan saya. Beritahukan kepada para murid mengenai cinta dan dukungan saya kepada mereka." Jadi, apakah maksud perkataan beliau ketika beliau berkata, "Aku mencintai dan mendukun mereka"? Itu adalah sebuah samudera.

Allah SWT berfirman dalam Kitab Suci al Qur'an kepada para Penghuni Gua:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته ويُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا

Wa idzi' tazaltumuuhum wa ma ya'buduuna illAllaha fa'wuu ilal kahfi, yansyur lakum Rabbukum mir rahmatihii wa yuhayyi' lakum min amrikum mirfaqaa.
Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. [Al-Kahfi (18):16]

Mereka berdebat, "Kemanakah kami harus berlari?" dan nasehat datang, "Larilah ke gua itu! Larilah ke gua itu!" Dalam gua itu Allah SWT akan mewujudkan Rahmat-Nya atas kalian. Tanpa memperhatikan apa yang sedang kalian lakukan, Allah SWT akan mengirimkan Rahmat-Nya atas kalian, Dia akan mengatur dan memperlihatkan pada kalian bimbingan-Nya, jalan-Nya.

Jadi, ketika Mawlana berkata, "Katakan kepada mereka bahwa aku mencintai dan mendukung mereka," artinya kita berada dalam gua (perlindungan) beliau! Beliaulah gua kemana kita harus berlindung. Bagi kita, gua itu seperti kalian lihat di GoogleMaps, kalian ingin melihat langit atau ingin melihat gedung apapun di muka bumi melalui Google – apa yang kalian lakukan? Kalian mengeceknya: memberikan alamat dan kemudian diperlihatkan kepada kalian sebuah wilayah. Namun wilayah itu sangat luas, jadi kalian ingin memperbesarnya agar bisa melihat wilayah itu lebih dekat. Ketika Awliyaullah bicara dan kalian masuk ke dalam gua awliyaullah, jika memasukinya dengan kepercayaan penuh maka kalian bisa memperbesarnya. Karena Awliyaullah akan memperbesar kalian sampai ke hadirat Rasulullah SAW. Semakin banyak Awliyaullah memperlihatkan kepada kalian pembesaran itu, semakin dekat kalian mencapai hadirat Rasulullah SAW.

Tidaklah mudah memperbesar, sangatlah sulit. Seorang wali harus bertanggung jawab atas semua muridnya agar dapat mendekatkan mereka ke hadirat Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW harus mengemban tanggung jawab dan kesulitan Ummat, agar dapat mendekatkan mereka ke dalam Hadirat Ilahiah. Ketika Mawlana Syaikh berkata, "Kirimkan cintaku kepada mereka," artinya: Apabila seseorang mencintai orang lain, maka dia akan peduli terhadapnya. Jika kalian mencintai anak kalian, maka kalian peduli akan mereka. Kalian tidak bisa berkata: "Oh, saya mencintai anak saya" tapi ketika anak sakit, kalian berkata, "Saya tidak peduli." Kalian akan menjaganya sepanjang malam. Dimata Awliya, kita adalah anak-anak. Meski kita berjenggot panjang, jenggot kita berwarna hitam, putih atau merah ... Kita masih anak-anak dimata awliyaullah; Awliyaullah harus memikul masalah dan kesulitan kita.

Suatu saat, Grandsyaikh (semoga Allah merahmati ruh beliau) berkata bahwa Wali membutuhkan muridnya. Jika tidak ada murid, tidak ada wali. Beliau mengatakan hal itu untuk memperlihatkan seberapa berat memikul tanggung jawab. Beliau berkata, "Mengapa seorang wali menjadi wali, jika dia tidak punya murid? Murid menjadikannya wali... Allah SWT membuka hatinya –apapun yang mereka butuh untuk mendengar dan apapun yang mereka butuhkan- agar dapat bertambah baik dan terus maju. Itulah mengapa sangatlah penting bagi seorang wali kalau berbicara harus mencapai hati muridnya. Dan kita harus penuh perhatian karena beliau memikul kita; beliau sedang membuka hati kita. Jika tidak membuka hati kita untuk menerima beliau, kita berada dalam masalah. Bukan masalah bagi beliau, tapi kitalah yang akan bermasalah.

Sayyidina Abdul Qadir Jilani (semoga Allah merahmati ruh beliau), mempunyai seorang khalifah yang sudah tua. Beliau belajar dari
Sayyidina Abdul Qadir Jilani tentang kerendahan hati (tawadhu'). Karena dalam thariqah, hal terpenting adalah tawadhu', rendah hati. Tawadhu atau rendah hati artinya kalian tidak memberikan kesempatan kepada ego kalian untuk merasa bangga atas diri sendiri. Rasulullah SAW adalah orang yang paling tawadhu'. Apakah yang Allah SWT katakan mengenai beliau dalam Kitab Suci al Qur'an? Karena Rasulullah SAW sedang mencari Samudeta Pengetahuan yang Allah SWT telah bukakan kepada beliau pada malam Isra' wa-l Mir'aj:

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Qul lau kaanal bahru midaadal li kalimaati rabbii la nafidal bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii wa lau ji'naa bi-mitslihi madadaa
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).
[Al Kahfi (18):109]

Ketika melihat Samudera Pengetahuan tersebut, beliau berujar:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ

Qul: Innamaa ana basyarun mitslukum yuuhaa ilayya. Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku ….." [Al Kahfi (18):110]

Rasulullah SAW berkata tentang dirinya sendiri: "Aku ini hanya seorang manusia seperti kamu." Beliau berbeda!

Sebagaimana Imam Busairi (riwayatkan). Apa yang dia riwayatkan tentang Rasulullah SAW? "Bal huwa yakutatun wa naasu ka-l hajari – Beliau adalah sebuah permata tulen, sebuah berlian. Dan manusia lainnya bagaikan batu kerikil, bebatuan!"
Beliau berbeda sepenuhnya, namun beliau merendahkan dirinya. Beliau melakukan Isra' wal-Mir'aj, beliau sudah menjadikan diri beliau lebih tawadhu'. Nah, tugas kita adalah saling memperlihatkan ke-tawadhu'-an.

Ini bukan hanya memperlihatkan ke-tawadhu'-an kepada sang Syaikh. Sangat mudah memperlihatkan ke-tawadhu'-an kepada Syaikh, namun sulit memperlihatkan kepada orang lain. Kembali ke khalifah dari Sayyidina Abdul Qadir Jilani. Kemana pun Sayyidina Abdul Qadir Jilani mengutusnya untuk berdakwah ke desa atau ke perkumpulan yang berbeda-beda, dia duduk dan bicara. Segera setelah dia membuka mulut untuk bicara semua orang mendengarkan. Mereka sangat... mata mereka terbuka lebar. Tidak seperti saya dan beberapa orang lain saat mendengarkan Mawlana bicara, kita malah tidur! Orang mengalihkan pikirannya ke hal yang lain... Namun semua orang mendengarkan khalifah itu bicara, bahkan kalau kamu melempar sebuah pin maka jatuhnya pin itu akan terdengar.

Syaikh itu mempunyai seorang putra. Putranya ini sangat terpelajar dalam Syari'ah Islam. Sang anak tahu tafsir Kitab Suci al Qur'an, tafsir dari hadis-hadis suci, hafal Kitab Suci al Qur'an, hafal hadis, tahu dengan detil Syari'ah. Dia melihat dirinya sendiri. Tiap kali Syaikhnya, yang tidak lain ayahnya sendiri, duduk dan bicara. Semua orang mendengarkan dan sang anak berkata dalam hati, "Oh, coba kalau saya yang bicara? Tentu sajasaya lebih terpelajar dibandingkan ayah, lalu semua orang tidak hanya akan terbuka matanya tapi hatinya turut terbuka ketika mendengarkan ucapan saya dan semua orang akan menghargai apa yang saya katakan!"

Sang ayah mengetahui "penyakit" anaknya ini. Apa yang dia lakukan? Dia berkata, "Oh putraku! Aku sakit minggu ini. Minggu yang akan datang kau pergi dan bicaralah! Pergi dan berikan sebuah sohbet." Dia sangat senang, tidak menyangka akan memberikan sebuah sohbet kepada banyak orang. Dia pun beranjak pergi dan duduk dikursi yang biasanya digunakan oleh sang ayah. Sedangkan sang ayah berada diruang lain, menyembunyikan diri, mengamati apa yang akan terjadi. Sesaat sang anak mulai memberikan sohbet –dia seorang 'alim, seorang 'alim besar pada zamannya –seperti sekarang bila kita menghadiri konferensi- saya sering menghadiri konferensi dan melihat orang seperti itu- profesor atau pembawa acara memberikan sebuah presentasi dan sebagian besar hadirin tertidur. Tidak seorang pun mendengarkan karena mereka merasa bosan. Nah, mengapa mereka bosan? Ada rahasianya disini.

Dan rahasia dalam cerita ini adalah meski sang anak seorang yang 'alim, tapi tatkala dia mulai bicara, semua orang tertidur. Jadi, dia terus bicara dan melihat: sebagian besar pendengarnya tertidur. Dia sangat terkejut. Dia pun segera menyelesaikan sohbet dan menghadap kepada sang ayah. Dia bertanya: "Oh ayahku, apa yang terjadi? Saya lebih terpelajar dibandingkan dengan ayah, saya tahu lebih banyak dibandingkan dengan ayah. Saat saya bicara, semua orang tidur. Ketika ayah bicara, semua orang terbuka mata dan hatinya. Apa yang terjadi?"

Sang ayah menjawab, "Oh putraku! Itulah permasalahan ulama saat ini (pada masa itu), kaum ulama sangat bangga akan diri mereka. Mereka sombong. Ketika aku duduk untuk memberikan sohbet, pesan yang sedang aku sampaikan kepada semua orang datang dari hati Sayyidina Muhammad SAW. Jadi, ketika bicara akulah pendengar pertama yang mendengarkan apa yang aku katakan. Akulah murid pertama yang duduk disana; aku tidak memandang diriku sebagai wakil dan aku tidak memandang diriku sebagai 'alim; aku memandang diriku yang paling kurang diantara semua orang, yang terendah diantara mereka. Itulah ke-tawadhu'-an yang harus dipraktekkan saat kau mulai memberikan ceramah. Bila tidak, kau akan membuat semua orang merasa bosan."

Jadi, ketika kita bersama Mawlana Syaikh Nazim mendengarkan sohbet. Ketika beliau bicara kepada kita, maka kita harus pastikan bahwa mata, telinga dan hati kita terbuka karena kita tidak hanya duduk dihadapan Awliyaullah saja. Pada kesempatan itu hadirnya Awliyaullah adalah hadirnya Rasulullah SAW. Bagaimana kita harus duduk? Bagaimana para Sahabat duduk dihadapan Rasulullah SAW adalah cara murid harus duduk, mencontohnya. Meski tidak seorang pun mampu meraih tingkat para Sahabat dan wali tidak bisa meraih tingkat Rasulullah SAW, namun kita harus mencontoh cara mereka agar kita mampu meraih apa yang ingin kita raih.

Dan itulah mengapa saya telah mengatakannya disatu waktu sebelum ini bahwa: Semua orang yang masuk ke dalam gua akan selamat. Ketika masuk ke hadirat gua Mawlana Syaikh, kita selamat. Itulah mengapa terakhir kali mengenai Grandsyaikh. Ketika Grandsyaikh diminta untuk mengemban tanggung jawab sebagai pembimbing, irsyad. Grandsyaikh berkata kepada Syaikh Sharafuddin – saya menyingkat cerita ini -, "Apakah manfaat bila saya menerima khilafah dari anda padahal saya tahu bahwa para murid saya tidak akan melakukan apapun? Mereka menjadi malas; tidak melakukan apa-apa kecuali ibadah wajib dan hanya itu saja! Jadi, jika anda memberikan saya otoritas dimana siapapun yang duduk bersama saya, saya akan menaikkan dia hingga menjadi satu tingkat dengan tingkat saya maka saya akan menerima irsyad!"

Itulah sebuah kabar gembira bagi kita semua: rahasia itu adalah bersama Mawlana Sultanu'l-Awliya Sayyidi Syaikh Muhammad Nazim Adil al Haqqani - semoga Allah SWT memberi beliau panjang umur.

Ketika kita duduk bersama beliau, beliau menaikkan kita bagaikan sebuah lift. Awliyaullah menaikkan para muridnya hingga sama dengan tingkat mereka sendiri. Jangan pikir Syaikh akan menerima seseorang yang akan berada dirantai oleh tangan setan. Seperti seorang jenderal militer yang tidak akan membiarkan seorangpun dari prajuritnya menjadi tawanan musuh, Awliyaullah tidak akan membiarkan para muridnya menjadi tawanan dalam tangan-tangan setan. Rasulullah SAW tidak akan membiarkan Ummahnya menjadi tawanan dalam tangan-tangan setan. Allah SWT tidak akan membiarkan satupun hamba-Nya menjadi tawanan dalam tangan-tangan setan. Itulah mengapa Ummatun-Nabi SAW ummatu marhamma akan dikirim ke Surga!

Jadi beliau mengatakan, "Aku kirimkan cintaku kepada mereka," yang artinya, "Aku mengurus mereka. Memberitahukan agar mereka tidak usah kuatir. Dan aku memberikan mereka dukungan." Artinya kita diberi dukungan. Banyak orang mengatakan kalau Mawlana sakit, kita tidak perlu berkunjung. Jangan, jika hati kalian berkata, "Datang!" maka datanglah. Sudah cukup datang kepada maqam. Maqam ... kehadiran beliau disini tidak bisa disingkirkan. Allah SWT memberi kita kehormatan dengan menjadi pengikut Mawlana dan bagian dari Ummatun-Nabi SAW.

Beliau juga berkata, "Beritahukan kepada mereka bahwa tahun ini adalah tahun penuh peluang." Apakah arti dari "tahun penuh peluang"? Satu tahun penuh peluang artinya "Jangan biarkan satu peluangpun berlalu tanpa kalian memperoleh keuntungan darinya." Itulah mengapa mereka terlalu banyak menggunakan kata "peluang" dalam dunia keuangan, makelar, pasar saham. Artinya, "Jangan biarkan satu saham berlalu saat kamu dapat melihat ada satu keuntungan dari saham itu, ini sebuah peluang, rebutlah!"

"Tahun ini adalah tahun perdagangan" ujar beliau, "dengan Allah SWT. Karena ini satu tahun yang penuh dengan kesulitan, pembalasan dendam dan hukuman."

Jadi, inilah tahun penuh peluang bagi mereka yang merendahkan diri mereka; bagi yang melakukan awraad; yang melaksanakan ibadah-ibadah; yang berusaha menaikkan diri mereka dalam melawan hasrat dari ego-ego mereka! Bagi mereka inilah kesempatannya! Jangan biarkan kesempatan dan peluang ini hilang terutama pada tahun ini! Dan beliau mengatakan, "Tahun ini akan menjadi tahun yang sangat sulit bagi kekuatan-kekuatan setan dan tahun yang mudah bagi kaum beriman!"

Semoga Allah SWT menjaga dan menjadikan kita beriman dengan berkah Syaikh kita yaitu Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani, dan dengan berkah-berkah dari Sayyidina Muhammad 'alaihi afdala ash-shalaat was-salaam.

Wa min Allah at Taufiq

Saturday, January 31, 2009

"Dunia yang tak bernilai, kertas yang tak bernilai"

As-Sayyid Maulana Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani an-Naqshbandi.


Sohbet, Jum'at 30 Januari 2009, setelah Sholat Jum'at dan Hadrah di

Zawiyah Cyprus, Lefke.

"Dunia yang Tak Bernilai, Kertas yang Tak Bernilai"

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Itulah terjemahan pendek dari Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim. Seluruh Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim, kalau kalian mencoba memahami arti yang terkandung dalam ayat Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim: "Meskipun seluruh samudra dijadikan tinta dan seluruh pepohonan dijadikan pena-pena, niscaya tidak akan cukup untuk menuliskan samudra-makna dari Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim. Kita hanya bisa mengucapkan terjemahan dalam bahasa Inggris yang dipahami orang awam, itupun terjemahan yang pendek: "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kalian mau mendengarkan untuk kemudian melaksanakan.

Semua Nabi dan Rasul diutus guna mengajarkan jalan hidup yang benar kepada umat manusia. Jalan yang benar artinya yang membawa umat manusia mencapai surga, dan kehidupan surga mengantarkan manusia menuju Hadirat Ilahiah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Manusia sekarang, sudah lupa akan hal ini. Di zaman sekarang ini, seluruh bangsa dengan seluruh penduduknya di setiap negara, mereka semua hanya mengharapkan kehidupan dunia agar punya uang lebih banyak dan menabung uang lebih banyak. Subhanallah. Dan mereka itu menabung triliunan atau kuadriliun dalam dolar, euro [Maulana batuk ..], lalu apa yang terjadi?

Keuntungan apa yang mereka peroleh? Hah? Kalian mulai mengerti...

Kalian sudah tahu bahwa sejak 5 atau 6 bulan terakhir ini terjadi krisis. Krisis ini mengguncang dunia dan membuat resah manusia di muka bumi ini. Sekarang, mereka sudah putus asa dengan uang yang mereka tumpuk selama ini. Mereka mengeluh, "Oh, semua uang kami baru saja habis!"

Kesalahan besar bangsa dunia setelah perang dunia pertama adalah dihapusnya emas sebagai alat-tukar, padahal emas mempunyai nilai riil di dunia dan akhirat. Orang sekarang menghapuskan emas dan menggantinya dengan uang kertas. Orang zaman dahulu tidak pernah memakai uang kertas. Orang zaman sekarang menganggap orang zaman dahulu tidak tahu apa-apa. Tetapi, orang zaman dulu mengetahui nilai riil dari emas dan perak. Sejak 1920 ditariklah penggunaan emas dan mulai memakai kertas yang dituliskan diatasnya angka-angka, seolah kertas ini benda penting. Sekarang orang yang menumpuk uangnya baru menyadari apa yang mereka perbuat: "Kita selama ini menumpuk kertas yang dituliskan di atasnya angka-angka, kita ini sangat bodoh." Bagaimana bisa mereka mengganti nilai riil emas menjadi kertas? Ya. Seluruh kerajaan dan para rajanya dan juga dinasti Utsmaniyah yang terakhir, yang membawa Bendera Sayyidina Muhammad SAW [Maulana Syaikh Nazim berdiri, lalu berkata ..]. Kalian harus berdiri ketika Nama Suci beliau disebutkan.

Itulah adab dalam Islam, yakni mengungkapkan sebanyak mungkin rasa hormat dan memuliakan Penutup para Nabi dan Rasul, dimana semua yang tercipta diperuntukkan bagi beliau SAW, dan untuk kehormatannya SAW Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لو لاك ما خلقت الأفلاك

Law laaka law laaka ma khalaqtu al-aflaaq - Jika tidak untukmu (Ya Muhammad) Aku tidak akan pernah menciptakan makhluk. Hamba-Ku yang paling mulia dalam Hadirat Ilahiah Ku adalah Muhammad SAW, dialah hamba-Ku. Allah Subhanahu wa Ta'ala boleh mengatakan "Muhammad", tapi kita semua harus memanggil beliau "Sayyidina Muhammad".

Kita harus menyebut nama Rasulullah SAW dengan "Sayyidina Muhammad SAW". Wahai manusia, Islam diturunkan untuk mengajarkan pada manusia bagaimana mereka hidup. Bagaimana sikap mereka terhadap Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan juga bagaimana mereka harus bersikap kepada hamba yang paling dicintai dan dimuliakan Allah SWT, yang paling terhormat di Hadirat Ilahi. Sayyidina Muhammad SAW tidaklah seperti kalian. Tidak. Beliau berasal dari antara kalian, tetapi beliau tidak sama dengan kalian. Kalian berada di bawah permukaan bumi taht al-thara, sedangkan beliau berada di Surga di Hadirat Ilahi, sangatlah tidak mungkin bagi siapapun mencapai maqam itu. Beliau adalah hamba yang paling dihormati dan dimuliakan di Hadirat Ilahi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata pada Sayyidina Musa (as) - Ya Musa! innii ana Rabbuka fakhla' na'layka; innaka bil waadil muqaddasi thuwaa.

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

"(Ya Musa), sungguh Aku adalah Tuhan-mu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah Thuwa yang suci."

[QS Thaha (20):12]

Ketika Sayyidina Musa (as) mendengar suara dari surga melalui sebuah pohon, beliau mengejar suara itu, tapi segera terdengar lagi perintah, "Ya Musa, lepaskan dulu alas kakimu, baru datang mendekat kepada-Ku! (Namun) di peristiwa lain, ketika malam Mi'raj, Sayyidina Muhammad SAW naik mencapai Singgasana Suci Allah Subhanahu wa Ta'ala, kemudian (dengan penuh adab) beliau bergegas menanggalkan alas-kaki beliau dan mendekati Singgasana Allah hanya dengan kaki suci beliau (tanpa alas). Dan seperti inilah bentuk sepatu Rasulullah SAW. [Maulana Syaikh Nazim menunjuk pada bros, hiasan pada turban beliau, yang berbentuk sepatu-sandalnya Rasulullah (s), na`l ash -sharif].

Rasululllah SAW segera melepaskan sepatu beliau, tapi datanglah perintah Ilahi: "Tidak perlu kau membuka sepatumu! Pakailah masuk ke Singgasana Suci-Ku. Merupakan kehormatan bagi Singgasana Suci-Ku dengan masuknya kamu kedalamnya! Peristiwa ini disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Lama, dan Kitab Suci Al Qur'an. Nah, orang zaman sekarang mengira para Nabi dan Rasul diturunkan untuk menjadikan mereka hamba dunia, untuk menjadikan mereka kolektor emas dan perak. Apa yang akan kalian perbuat dengan yang dikumpulkan itu? Kehidupan dunia ini datang dan pergi dan menyaksikan kehidupan para Fir'aun.

Begitu banyak Fir'aun (Pharaoh). Fir'aun-fir'aun itu menumpuk berton-ton emas dan mereka membuat wasiat kalau kelak mereka mati dikuburkan bersama emas yang mereka kumpulkan. Sekarang, apa yang terjadi setelah ribuan tahun? Tidak seorangpun yang sanggup masuk ke kuburan fir'aun itu dan melihat ada apa di dalam piramid-piramid itu. Mereka ingin melihat mummi-mummi fir'aun. Kalian hanya bisa melihat bentuk peti mati fir'aun-fir'aun itu. Kalau dibuka dan melihat isi di dalamnya, kalian akan lari. Mungkin beberapa malam kalian tidak bisa tidur terbayang betapa buruknya mumi-mumi itu seperti Ramses, Tutankhamen, dan banyak fir'aun-fir'aun lainnya. Kalian tidak bisa melihatnya, tidak ada manfaatnya. Fir'aun-fir'aun itu menumpuk harta dan menyembunyikan harta karunnya dalam kuburnya, harta-harta itu tidak bermanfaat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا
فِي سَبِيلِ اللّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Walladziina yaknizuunadz dzahaba wal fidhdhata wa laa yunfiquu naahaa fii sabiilillahi fabasysyir hum bi adzaa bin aliim - "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar kepada mereka, "bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih. [QS at-Taubah (9):34]

Itulah syaithan yang membuat manusia bekerja untuk dunia, bukan hanya hamba dunia tapi "budak dunia". Dan di abad-21 ini, umat manusia, termasuk umat dunia Islam, mereka semua tidak bersikap sebagai hamba Tuhan Yang Menciptakan mereka, Allah Subhanahu wa ta'ala, mereka malah berupaya menjadi budak-budak dunia. Mereka berada di bawah komando/kendali syaithan. Syaithan, dalam bahasa Inggrisnya Satan.

Sekarang seluruh umat manusia di dunia termasuk dunia Islam menjadi budak-budak dunia. Dan Rasulullah SAW, Sayyidina Muhammad SAW berkata bahwa setiap hari syaithan datang dan berteriak, "Hai manusia, aku punya anak perempuan! Aku ingin menjadikan salah satu dari kalian menjadi menantuku! Siapakah yang menerima? Syaithan tiap hari datang dan berkata pada manusia, "Aku punya anak perempuan cantik dan aku ingin mengawinkannya dengan salah seorang dari kamu." Manusia bertanya,"Bagaimana caranya?" Setan menjawab, "Barang siapa yang hari ini membuatku senang dengan menjadi budakku, maka aku akan menjadikan anak perempuanku tercinta menjadi istrimu."

Apakah "anak perempuan setan" itu? Yaitu "dunia". Seluruh manusia sekarang berusaha menjadi menantu setan! Sangat disayangkan, kasihan, kasihan.

Dan dunia ini tidak ada nilainya. Berapa nilai seluruh dunia ini di hadapan Hadirat Ilahi? Rasulullah SAW -Sayyid ar-Rasul il-kiram- bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfiman "Kalau dunia ini bernilai sekeping sayap nyamuk saja, maka Aku (Subhanahu wa Ta'ala) tidak akan memberikan rizki kepada mahluk yang tidak mengaku sebagai hamba-Ku". Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala tetap saja memberi. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi. Tapi pada akhir kehidupan manusia, apa yang terjadi? Saat itu Allah Subhanahu wa Ta'ala akan berkata pada manusia, "Inilah saat
terakhir hidupmu, kamu boleh mengambil lebih banyak lagi dari dunia ini. Meski kamu punya lebih banyak harta dibandingkan Qarun sekalipun, tetap pada akhirnya Qarun pun mati, begitu juga kamu kini mati." Seluruh umat di dunia sekarang tidak menerima sebagai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang Maha Pencipta [Maulana Syaikh Nazim berdiri], Allah Ta'ala, Jalla Jalaluhu. Meskipun kita berdiri seperti ini sampai akhir hidup kita, belumlah apa-apa, kita semua hamba-hamba
Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Wahai umat Islam, kita sekarang ini berada di zaman jahiliyah yang kedua. Zaman kebodohan kedua. Zaman kebodohan pertama terjadi pada masa Sayyidina Rasulullah SAW dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman pada Rasulullah SAW tentang zaman jahiliyah itu, "Wahai hamba yang Aku cintai, Aku mengutusmu untuk membersihkan diri hamba-hamba-Ku, agar mereka membuka akal dan hatinya untuk mengetahui Siapa Yang Menciptakan mereka, dan tanyalah tentang amal perbuatan mereka, pikirkanlah dari apa mereka diciptakan, dan apa yang diharapkan Yang Maha Pencipta dari mereka."
Sekarang seluruh umat manusia mencapai zaman jahiliyah kedua. Tidak ada seorangpun yang membicarakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala firmankan. Bangsa Arab tidak melakukannya. Tidak Turki, tidak Iran, tidak Rusia, tidak Amerika, tidak Afrika, tidak juga dari bangsa di timur dan di barat. Saya tidak pernah mendengar orang berlari dan berkumpul di jalan-jalan dan saling bertanya: "Apakah sebenarnya yang diperintahkan Allah (kepada kita)?".

(Mengapa sekarang) orang-orang berlarian ke jalan-jalan dan melakukan demonstrasi? Siapa yang pernah melihat demonstrasi dalam Islam sebelum ini? Apakah dulu masyarakat negara-negara Muslim juga keluar ke jalanan dan berteriak-teriak? Di ayat mana dalam al-Qur'an Allah Subhanahu wa Ta'ala pernah mengizinkan demonstrasi di jalan-jalan itu?? Atau di hadis yang mana pernah ada perintah berlarian ke jalan-jalan? Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata, "Datanglah kepada-Ku, datanglah kepada-Ku." Dan "Masaajid buyuut Allah." Masjid-masjid adalah rumah-rumah Allah. Hai orang-orang Arab, betul kan? Mereka tahu bahasa Arab? Mereka tahu tapi tidak paham - seperti saya ini (Maulana merendah), saya tahu bahasa Arab tapi tidak memahaminya. Siapakah 'alim ulama dari barat ke timur, dari negara Arab atau non-Arab yang dapat mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-Nya berlarian ke jalanan, pria dan wanita berteriak-teriak di jalanan? Dimana masjid-masjid mereka?

Masjid-masjid adalah bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kalau sesuatu yang buruk terjadi maka masuklah kalian ke masjid dan berdoalah. Apakah yang kalian minta? Ini hari Jum'at. Terdapat ribuan masjid di banyak negara tempat bagi orang yang sholat dan berdo'a. (Daripada berada di luar) yang seorang berteriak "Oh Palestina", tapi yang lain berteriak lain lagi. Apakah yang terjadi atas umat Muslim ini sehingga membuat demo-demo di jalanan? Apakah ada syariat Islam yang memerintahkan berdemo? Kepada siapa kita berteriak di jalan-jalan itu? (siapa yang mendengarkan?)

(Makanya) kalian harus datang ke masjid-masjid dan berdoalah, "Wahai Tuhan kami, selamatkanlah diri kami karena kami ini sangatlah lemah. Karuniakanlah Rahmat-Mu kepada orang-orang yang beriman, turunkanlah pertolongan-Mu pada hamba-hamba-Mu yang berupaya mencari Ridho-Mu ...".

Nah, (apakah do'a seperti barusan) diucapkan oleh orang-orang, pria dan wanita yang berteriak berdemo di jalanan? Khususnya kepada kaum perempuan, Allah SWT berfirman: Qa qurnafii buyuutikunna wa laa tabarrajal jaahiliyyatil uulaa, wa aqimnash shalaata wa aatiinazzakaa wa athi'nallaha wa rasuulahu ....

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ
الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ
أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

"Dan hendaklah kalian berdiam di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti kaum jahiliah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, ..." [QS al-Ahzaab (33):33]

Kalian (para Muslimah) harus menjaga diri kalian, beradalah di bagian terdalam di rumah-rumah kalian, jangan kalian berkeliaran di jalan-jalan. Perbuatan itu tidaklah Islami. Jangan lakukan itu. Kaum perempuan di Iran keluar ke jalanan.

Kaum perempuan Arab juga keluar dan berteriak-teriak. Kaum perempuan Turki juga keluar dan berteriak-teriak. Perempuan di Mesir juga keluar dan berteriak-teriak. Kemanakah para Syaikh di al-Azhar? Apa yang mereka katakan? Mereka takut kepada siapa? Kenapa tidak berani mengatakan kebenaran? Kalau mereka tidak berani mengatakan kebenaran, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti menurunkan azab.

Janganlah takut. Kalau kita perlu takut, maka takutlah hanya kepada Penciptamu, Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan Nabi yang Suci SAW pernah berfiman:

"ولن يغلب اثنا عشر ألفا من قلة"

wa lan yaghlib min ummattii ithna `ashar alf min qillat [1] – Wahai Muslim, kalian tahu hadis syarif ini? Disebutkan, andaikan saja umatku, jika mereka hanya 12.000 orang saja, pastilah mereka mencapai kemenangan. Meski hanya dengan pedang, sudah cukup untuk mencapai kemenangan. (Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman): "Aku-lah Yang memberikan kemenangan, bukan sawaariikh, rudal-rudal kalian." Jangan. Jangan tergantung kepada rudal-rudal kalian. Jangan. Ketika dua pasukan saling berhadapan siap saling serang, apabila Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di pihak yang sedikit maka tentara di seluruh duniapun akan kalah.

Tetapi keimanan kita saat ini ada di titik nol, makanya kita meminta ke sana-sini mohon pertolongan - "Bantulah kami melakukan jihad..". Itu bukanlah jihad. Itu bukanlah jihad. Bukan. Jihad itu untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan pihak yang ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menang. Meskipun hanya 3 orang muslim, jika Allah Subhanahu wa Ta'ala menolong mereka maka meskipun 3 milyar atau 30 milyar bisa dikalahkan. Kita harus mengubah cara kita. Kita harus meninggalkan prinsip-prinsip barat. Dunia Muslim harus meninggalkannya dan harus kembali kepada jalan Rasulullah SAW. Jika tidak, kita juga akan musnah.

Bukanlah hal yang sulit bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala jika Dia ingin memusnahkan

milyaran. Dia (Subhanahu wa Ta'ala) bisa mengirimkan taufan banjir pada ummat Nabi Nuh (as), sehingga hanya 80 orang saja yang hidup. Dari hanya 80 yang tersisa itu, sudah ada milyaran manusia lagi sekarang di dunia. Karena, Dia adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kalian harus tahu siapa Allah Subhanahu wa Ta'ala - seperti yang diajarkan oleh Rasulullah, Sayyidina Muhammad SAW kepada ummat. Kalau tidak, kalian akan menerima azab dari Allah. Sekarang Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan azab yang sama kepada umat Muslim maupun non-Muslim. Umat Muslim juga terkena azab karena mereka tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika Muslim tidak meminta petunjuk-Nya, maka diturunkanlah azab..

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّن
فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً
وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ
لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Katakanlah (olehmu Muhammad), "Dia-lah Yang Berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kami dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kami keganasan sebagian yang lain, bagaimana Kami Menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasan Kami) agar mereka memahaminya." [QS al-An'am, (6):65].

Aku (Subhanahu wa Ta'ala) pasti menurunkan azab apabila mereka tidak mau patuh kepada perintah-Ku. Maka Aku turunkan Murka Ilahiah-Ku dalam bentuk azab dari langit ataupun azab dari bawah kaki mereka, atau membuat mereka saling menguji satu sama lain.

Rasulullah SAW pun kemudian memohon, "Wahai Tuhanku, janganlah Engkau menghukum umatku sebagaimana Engkau mengazab orang-orang jahil dari umat-umat yang terdahulu." Allah Subhanahu wa Ta'ala pun menjawab, "aiklah Aku terima permintaanmu (ya Muhammad (SAW)), tapi kalau mereka terus berada di jalan yang salah, maka akan Aku hukum mereka. Aku buat ahzab -kelompok-kelompok- terdiri dari berbagai partai, mereka kemudian mulai saling membunuh di antara mereka." Seperti yang terjadi pada Bani Israil karena mereka menyembah sapi, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengazab mereka melalui sesama mereka. Mereka yang tidak menyembah sapi diperintahkan agar membunuh mereka yang menyembah sapi. Dialah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ
أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُواْ إِلَى بَارِئِكُمْ
فَاقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ
فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu (wahai orang-orang zalim). Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan Menerima tobatmu. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang." [QS al-Baqarah (2):54]

Kalian harus memperbaiki langkah-langkah kalian, jangan sampai mengikuti langkah syaithan. Kalian harus mengikuti Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sohbet saya ini, terlaksana dengan pertolongan Ilaahi Rabbi, Tuhan Pemilik Surga. Semoga Dia memberi kalian umur sampai tahun depan atau sampai akhir dunia ini, tapi kalian harus mengambil inti dari sohbet saya ini bagian yang berharga (jawhar) ambilah, maka kalian akan selamat. Kalau tidak, kalian akan menerima azab. Kelompok yang kecil akan masuk Surga. Kelompok yang besar akan diadili nanti tergantung amal mereka. (Maka) jagalah diri kalian, berlarilah menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jangan mengikuti langkah syaitan. Berlarilah menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni kita semua.

[Kemudian Maulana Syaikh Nazim Haqqani memimpin do'a]: "Ya Rabbi, kami ini pendosa besar yang memohon ampunan-Mu. Kami tidak sungguh-sungguh berupaya menjadi hamba-Mu yang tulus, kami menyia-nyiakan hidup kami, kami memohon rahmat suci-Mu agar Engkau mengampuni kami. Ya Rabbi, demi makhluk yang paling Engkau muliakan, Nabi dan Rasul yang paling dimuliakan oleh-Mu dan oleh Nabi dan Rasul yang lain, yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Sayyidina Muhammad SAW. Ya Rabbii 'afu anna wa aghfir lana wa'arhama wa tub alayna wa ba`ath lana sahib – maalik yahkum al-Islam wa kul ad-dunya min al-maghrib ilaa al-mashriq.

Turunkanlah seorang Sultan ya Rabbi, karena kami ini kehilangan arah. Sultan dari Mu mampu membawa kami ke jalan yang benar menuju Engkau, sehingga kami datang menghadap-Mu dengan wajah yang bercahaya, tidak dengan wajah yang gelap. Amin. Amin. Amin. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni saya dan memberkahi kalian semua, demi kehormatan yang paling terhormat, Sayyidina Muhammad SAW. Fatihah!.

[1] Jami` as-Saghir

Terima keasih kepada mbak Nenni yang telah menerjemahkan dan memposting sohbet ini agar dapat kami baca.