Showing posts with label MSH. Show all posts
Showing posts with label MSH. Show all posts

Sunday, November 28, 2021

The moments in your life when you remember Prophet (s) are real life


English

The moments in your life when you remember Prophet (s) are real life.

Wherever you are, you are an orphan if you are not every moment in the presence of your shaykh.

Allah gave us a way to not be orphans, because our father, or grandfather, or great-grandfather, or great-great-great-grandfather is Sayyidina Muhammad, `alayhi adsal as-salaatu was-salaam.

Allah is saying in Holy Qur'an, “You don’t want to be an orphan? Then make salawat on Prophet ﷺ.” It means keep your tongue wet with salawat on Prophet ﷺ, then you are not an orphan for you will be given spiritual knowledge.

*The moments in your life when you remember Prophet ﷺ are real life and when you don't remember him, when you are preoccupied with dunya, in those moments you are an orphan.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Bahasa Indonesia

Saat-saat dalam kehidupan Anda ketika Anda mengingat Nabi (saw) adalah kehidupan nyata.

Di mana pun Anda berada, Anda adalah seorang yatim piatu jika Anda tidak setiap saat berada di hadapan syekh Anda.

Allah memberi kita jalan untuk tidak menjadi yatim piatu, karena ayah, atau kakek, atau kakek buyut kita, atau kakek buyut kita adalah Sayyidina Muhammad, `alayhi adsal as-salaatu was-salaam.

Allah berfirman di dalam Al-Qur'an, “Kamu tidak ingin menjadi yatim piatu? Maka, bacalah shalawat atas Nabi.” Artinya, jagalah lidahmu dengan salawat Nabi , maka kamu bukan anak yatim karena kamu akan diberikan ilmu ruhani.

*Saat-saat dalam hidup Anda ketika Anda mengingat Nabi adalah kehidupan nyata dan ketika Anda tidak mengingatnya, ketika Anda disibukkan dengan dunia, pada saat-saat itu Anda adalah seorang yatim piatu.

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

Tuesday, August 31, 2021

Armageddon Series













To be continue ...

Thursday, February 23, 2017

What is the meaning of "Qutb al-Mutasarrif?"


Mawlana Shaykh Hisham Kabbani:

What is the meaning of "Qutb al-Mutasarrif?" A simple clarification is that I am not making that claim. He gave that and it is an honor; I never asked for it. He said, "You are Qutb al-Mutasarrif," and when he says something he gives its power with it. You will not only take something by hearing; that is not a real gift or grant. If I say, "I am giving you this frame," but I don't give it, then what is the benefit? No, when I say, "I'm giving you this frame," it means you must take it and go, carry it. So when he said, "I'm giving you! You are Qutb al-Mutasarrif," it's finished and that is real. There are five qutbs: Qutb, Qutb al-Bilaad, Qutb al-Aqtaab, Qutb al-Irshaad, Qutb al-Mutasarrif, and each has his own duties to perform and is responsible in front of Sultan al-Awliya (q) and Prophet (s).

To describe "Qutb al-Mutasarrif," if there is a university with 20,000 students, who is overlooking the students' affairs? There are many administrative offices, but on top of that there is one who decides what is going to happen. The decision is for the rector or the president of the university. Even if the university has five thousand or one million students, everything has to report to the rector or president of the university, who has to know every simple issue. That is an example. Qutb al-Mutasarrif is not like that. He is someone who works with the power and authority of the one who gave it, not his own power and authority. When he claims his own power and authority, it is nothing. But he works with the power of the one who authorized him. This means, he can take from that power, naseebuhu, of the Sultanu 'l-Awliya. Qutb al-Mutasarrif takes his share of power in order to fulfill his responsibilities.

Nothing moves in this world without Qutb al-Mutasarrif knowing about it! If there is anything moving in this universe, the Qutb al-Mutasarrif has to know about it. If he doesn't approve, it doesn't move; both living and non-living species. That is a grant to that qutb, and the other four have different duties and are of their own level and character. The others can speak on their own; I am not speaking on that, but I am speaking about what Mawlana Shaykh Nazim gave to me, and I am giving this like a small sample of perfume on his hand, like one drop. Qutb al-Mutasarrif, no one will receive a bite without his permission and will not take one drink of water without his permission. This is not because of his own self, but because he is using the power that is being passed to him, like a river or a pipe moving. That one doesn't need written ijazah; the ijazah is through the heart from the one who has authority and the one who gave it!

Monday, December 7, 2015

Jadwal Kunjungan MSH (14-24 Desember 2015)



JADWAL KUNJUNGAN
MAWLANA Shaykh Hisham Kabbani
❤ Unity in Mercy Ocean ❤
14 - 24 DESEMBER 2015
(Diperbaharui Senin, 7 Desember 2015)

SENIN, 14 DESEMBER 2015
Acara Penyambutan di Permata Hijau
Pukul 15.00 WIB - Selesai

RABU, 16 DESEMBER 2015
Qasidah dan Shuhbah “Satukan Hati atas nama Cinta-Nya”
Tempat: Kandank Jurank Doank milik Dik Doank
Pukul 20.00 WIB - 23.00 WIB

JUMAT, 18 DESEMBER 2015
Mawlid Akbar bersama Majelis Taklim Syababun Nabawiy
Tempat: Qubbah Makam Habib Cikini (Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi).
Pukul 20.00 WIB - 23.00 WIB.

SABTU, 19 DESEMBER 2015
Mawlid Akbar bersama Majelis Taklim Ahbaburrosul (Al-Habib Alwi Ba `Alawy)
Tempat: Masjid Agung Karawang
Pukul 20.00 WIB - 23.00 WIB

MINGGU, 20 DESEMBER 2015
Zikir dan Shuhba
Tempat: Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia
Pukul 19.00 WIB - 23.00 WIB

SELASA, 22 DESEMBER 2015
Mawlid Akbar dan Hadrah "Malam Cinta Rasulullah SAW" Pukul: 19.30 WIB - Selesai
Tempat: Pusdiklat Kesejahteraan Sosial. Kementerian Sosial
Jl. Margaguna Raya No. 1 Radio Dalam, Jakarta Selatan.

KETERANGAN
Acara sewaktu-waktu dapat berubah, oleh sebab itu ikuti perkembangannya lewat Media-Media kami.
Facebook: Nazimiyya Indonesia
Website: www.naqsybandi.com
Email: nazimiyya62@gmail.com

DONASI
Acara-acara di atas tidak akan terselenggara dengan baik tanpa dukungan Anda semua,
marilah kita dukung acara ini.

Donasi dapat disampaikan melalui:
Bank Mandiri, No.Rek 126.000.4053.45.9 atas nama Yayasan Haqqani Indonesia
Bank BCA, No.Rek 342 341 7893 atas nam Melza Marlinas (bendahara)
Konfirmasi: Melly (08161153215)

Jazzakumullah khayr untuk dukungannya, semoga Allah SWT ridha dan
membalasnya dengan balasan yang berlimpah.

Wednesday, August 8, 2012

Bersyukur Menjadi Seorang Muslim



Sayyidina Musa (a) sedang dalam perjalanan ketika ia mendengar sebuah suara datang dari gunung, suaranya terdengar jelas, dan ia pun mendekati suara itu. Ia sampai pada sebuah gua dan melihat ke dalamnya, di sana ada seseorang yang sedang bertasbih, "Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan aku lebih mulia dari yang lainnya." Dan Musa (a) melihat orang itu yang sedang bersujud, mendengarkan suaranya yang merdu. Ia terkejut ketika orang itu bangkit dari sujud, ternyata ia tidak mempunyai tangan dan kaki! Musa (a) terheran-heran, bagaimana ia bisa mengatakan itu? Bagaimana ia bisa makan? Lalu seekor rusa datang dan orang itu meminum susu darinya. Musa (a) melihatnya dan berkata, "Sahabatku, engkau memuji Allah bahwa Dia telah memuliakanmu dengan tak terhingga, tetapi engkau tidak mempunyai tangan dan kaki!" Orang itu melihatnya dan berkata, "Yaa Musa (a), Allah memberiku yang terbaik yang dapat kau bayangkan!" "Apa itu?" "Dia menjadikan aku sebagai seorang Muslim!"

Kisah itu ada di dalam Taurat. Menjadi Muslim adalah suatu kehormatan, jangan merasa malu, kalian pergi jalan, ke universitas, berbanggalah bahwa kalian Muslim! Orang itu yang tidak mempunyai tangan dan kaki berkata, "Aku seorang Muslim!" lalu Musa (a) mengangkat tangannya, "Yaa Rabbi hamba itu membuatku kagum dengan imannya, berikanlah ia Surga!" "Wahai Musa, apa yang kau minta telah diterima." Kemudian Allah mengirimkan hyenas untuk memakannya. "Kepada hamba-hamba-Ku yang tulus, Aku kirimkan ujian bagi mereka untuk mendapatkan Surga." Ujian ini adalah bahwa kita harus menegakkan Islam, berjuang untuk Nabi (s), pertama di antara diri kita, yaitu untuk mengetahui kebesaran Nabi kita (s). Apa yang dikatakan oleh Nabi (s)? "Aku telah diutus untuk menyempurnakan akhlakmu, untuk mendisiplinkanmu, untuk menyempurnakan perilakumu dan membuatmu menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya untuk salat dan puasa."

Tuesday, July 31, 2012

Bahaya Ghibah

Bahaya Ghibah
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Jakarta, 2003


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kalian semua harus memakai turban. Lihat! Ia memakai turban, di mana turbanmu? Ambil!

Kalian mendengar suara kucing itu? (kucing yang sedang berkelahi). Inilah yang terjadi bila kita bertengkar satu sama lain, bahkan lebih buruk daripada itu. Malaikat mendengar suara itu, demikian pula dengan awliya. Kalian lihat bagaimana mereka saling berteriak satu sama lain.

Hadis dari Rasulullah SAW berbunyi, “Barangsiapa yang mengunjing saudara atau saudarinya, siapapun yang saling menggunjing… bau dari gunjingan itu sangat berbahaya.” Oleh sebab itu Rasulullah SAW melarang keras bergunjing.

Suatu waktu, Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS memberi gambaran tentang gunjingan. Beliau berkata bahwa ketika seseorang meninggal dan ia dimasukkan ke liang kuburnya, apapun gunjingan yang telah diperbuat selama hidupnya, berapa banyak ia menggunjing, Allah SWT membawa gunjingan itu kembali padanya dalam wujud bau busuk. Bila selama hidupnya ia telah menggunjing sebanyak 100 kali, ia akan membawa 100 bau; bila 200—200 bau dan bila sejuta gunjingan—ia akan membawa sejuta bau ke dalam kuburnya.

Allah SWT membawa bau itu kembali ke kuburnya dan Grandsyekh berkata bahwa jika Allah SWT melepaskan satu bau dari bau-bau ini keluar dari kuburan itu, tak satu pun makhluk yang dapat bertahan di bumi ini, manusia dan semua makhluk akan mati bagai terkena reaksi bom atom.

Dan Allah SWT menciptakan binatang buas dari bau itu yang akan menyerang mayat yang terbaring di sana. Bagaimana kalian membayangkan keadaan orang itu jika satu bau saja yang bila dilepaskan ke dunia, semua makhluk akan tewas. Bagaimana dengan jutaan bau yang dikirimkan Allah SWT kepada mayat di kuburnya. Bagaimana efek yang terjadi kepada orang yang jiwanya dikembalikan ke tubuhnya selama ia berada dikuburnya. Ia akan berada dalam hukuman dan siksaan dalam kubur dari bau itu dan dari binatang yang diciptakan Allah SWT dari bau itu.

Dan Grandsyekh bercerita bahwa suatu ketika beliau pergi menuju makam Sayyidina Muhyiddin Ibnu Arabi QS di Jabal Qasyun mengendarai kereta kuda (pada waktu itu, jauh di masa lampau). Beliau dan seorang Syekh lainnya yang biasa dipanggil ‘Abdul Wahab Salahi duduk di kereta kuda pergi ke makam Sayyidina Muhyiddin Ibnu Arabi QS. Tiba-tiba muncul seseorang yang menghentikan kuda yang menarik kereta mereka dan orang itu berkata, “Assalamu’alaykum!” Mereka membalas, “Wa alaykum salam!” lalu ia berkata lagi kepada keduanya, ia mengarahkan pembicaraannya atau ucapannya kepada ‘Abdul Wahhab Salahi dan melihat kepada Grandsyekh, Syekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS, “Apakah ia Syekhmu? Atau engkau Syekhnya?” ‘Abdul Wahhab Salahi menjawab, “Ia bukan Syekhku dan Aku bukan Syekhnya.” Tiba-tiba orang itu menghilang. ‘Abdul Wahhab Salahi menoleh ke sana ke mari, “Ke mana ia pergi?” “Ia muncul dengan tiba-tiba dan tiba-tiba menghilang. Ia tidak berada di sini lagi.” Awliya menampakkan dirinya kepada orang-orang yang tulus. Grandsyekh dan ‘Abdul Wahhab Salahi, keduanya adalah orang-orang yang tulus sehingga awliya menampakkan dirinya kepada mereka. Tetapi sekarang orang-orang berkata, “Mana awliya… mana?” Khususnya mentalitas baru ini di mana mereka tidak percaya kepada karomah. “Di mana awliya…?” Kalian jatuh ke dalam lubang yang penuh dengan kotoran dan kalian berkata, “Mana awliya?” Bagaimana mungkin kalian akan melihatnya? Kalian harus menjadi orang yang tulus untuk bisa bertemu dengannya.

Mereka bertanya kepada Ibu Firdaus, “Di mana awliya? Apa itu awliya? Kami tidak melihat apa pun.” Mereka bertanya kepada kalian, “Mana…mana awliya, kami tidak melihat apa-apa.” Karena mereka tidak percaya, awliya tidak akan menampakkan dirinya kepada mereka. Awliya tidak akan menunjukkan keajaibannya kepada mereka, tetapi kepada orang-orang yang percaya, seperti Ibu Firdaus, seperti Anda dan seperti orang-orang yang hadir di sini, mereka akan menjumpai keajaiban dalam setiap gerakan yang dilakukan oleh Syekh.

Ketika Saya masih muda, setiap gerakan dari Grandsyekh Syeikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS dan Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS ketika itu, ketika Saya masih sangat muda… dalam setiap gerakan mereka, Saya melihat karomah.

Karena ketika kalian mempunyai keyakinan, mereka akan memperlihatkannya kepada kalian. Ketika kalian yakin dengan apa yang kalian kerjakan, mereka akan memperlihatkannya (karomah-red) kepada kalian. Bila kalian tidak mempunyai keyakinan seperti ini, untuk apa mereka menunjukkannya kepada kalian. Sebab kalian tidak menghargai berlian, awliya hanya akan memberi kalian permen dan kalian sudah puas dengan itu. Mereka tidak memberi kalian gula, melainkan pemanis buatan yang berkalori rendah, tidak berenergi, tidak berarti apa-apa. Barang siapa yang sakit, ambilah pemanis buatan itu, kalian tahu, ini tidak akan membuat gemuk. Tetapi bagi mereka yang kuat, awliya akan memberikan gula yang berenergi, artinya mereka memberi dukungan penuh kepadanya.

‘Abdul Wahhab Salahi adalah seorang yang tulus, mukhlis sehingga wali muncul ke hadapannya; tetapi ia belum mencapai tingkat yang sempurna, sehingga ketika ia mengatakan, “Ia bukan Syekhku dan dirinya pun bukan Syekhnya,”--wali itu langsung menghilang, tidak menyukainya. Ia berkata, “Wahai Syekh ‘Abdullah QS! Orang itu menghilang… siapa dia?” Syekh ‘Abdullah QS menjawab, “Tidak! Orang itu tidak menghilang, ia masih berdiri di sana… buktinya lihat! Ia menarik kuda itu dan sekarang menggerakkan kereta. ‘Abdul Wahhab Salahi melihat kuda itu bergerak, tali kekangnya tertarik tetapi ia tidak melihat orang yang menariknya…dan kereta pun berjalan.

‘Abdul Wahhab Salahi berkata, “Mengapa ia lenyap?” Syekh ‘Abdullah QS menjawab, “Ia tidak menyukai ucapanmu.” Syekh ‘Abdullah QS juga berkata bahwa para wali sangat suci, bila mereka mencium bau sedikit saja, mereka akan menghindar. “Ketika kau mengatakan bahwa engkau bukan Syekhku dan Aku bukan Syekhmu—ia mencium adanya aroma kesombongan dari ucapanmu, dari situlah ia menghilang. Dan ini bukan gunjingan. Ini hanyalah ucapan biasa yang dapat diucapkan oleh siapa saja, namun tetap saja ucapan itu mengundang bau busuk di hadapan awliya. Apa salahnya jika engkau berkata, ‘Ya ia adalah Syekhku,’ apa ruginya? Engkau tidak kehilangan apa-apa, kau melangkahi egomu… tetapi karena kesombongan diri, kau berkata, “Tidak, ia bukan Syekhku.” (Sebab ‘Abdul Wahhab Salahi berkata, “Syekhku dan Syekhnya adalah satu, yaitu Syekh Syarafuddin QS.” Apa salahnya untuk bilang bahwa ia adalah Syekhku, apa ada masalah?

Jika mereka bertanya kepadamu, “Apakah Berny Syekhmu?” “Ya, ia adalah Syekhku,” apa ada masalah? Jika mereka bertanya kepadamu, “Apakah Bubby Syekhmu?” “Ya, ia adalah Syekhku.” Jika mereka bertanya kepada Saya, “Apakah Haji Mustafa, Pak Mus adalah Syekhmu?” “Ya, tentu saja, Saya mencium tangannya dan Saya mencium kakinya.” Tidak ada masalah!

Bau dari percakapan tadi membuat wali itu pergi. Bagaimana menurut kalian, bila kita sedang salat dan mengucapkan “Allahu Akbar” lalu ratusan dan ribuan khawatir, gosip yang dibisikkan Setan ke telinga kita dan kita memikirkannya, “Oh, Mustafa adalah orang yang tidak baik, Oh Berny yang paling buruk, Oh Bubby gila, Oh Bapak dan Ibu Firdaus… Aku tidak mau makan dari makanan mereka. “ Ini dan itu… dan orang-orang mulai mempunyai gosip dalam pikirannya. Bagaimana malaikat akan membawa salatmu kepada Allah SWT, jika mereka pergi karena mencium bau (busuk) ini? Artinya salat kalian tetap berada di tempat, tidak diterima (oleh Allah SWT)… ia hanya diterima sebagai ibadah fardu, artinya kalian memang mengerjakan kewajiban kalian… tetapi itu tidak diterima sebagai ibadah yang sempurna. Ia tetap berada di tempatnya. Untuk itulah kita harus berhati-hati agar tidak membawa isu-isu yang telah terjadi sebelumnya dan menyebarkannya mulai dari satu kepada yang lain sehingga menjadi gunjingan.

Allah SWT adalah as-Sattar, Maha Menyembunyikan. Allah SWT Maha Mengetahui segala perbuatan kalian, baik maupun buruk. Dan Dia tidak melepaskan atau membukanya kepada orang lain. Dia melindungi dan tidak membiarkan kalian terekspos bagi orang lain. Tetapi manusia adalah seburuk-buruk pembuka aib orang lain. Grandsyekh melukiskan mereka bagaikan seekor lalat hitam yang selalu pergi ke tempat-tempat yang kotor. Di mana ada sampah, di mana ada kotoran, di mana ada WC, toilet, dan apa pun yang kotor kalian akan menjumpai lalat-lalat ini beterbangan. Seperti halnya surat kabar dan majalah-majalah ini. Mereka mengejar setiap orang, menggoyang hidupnya, apa yang mereka lalukan terhadap istrinya,… ia menipunya… ia tidak menipunya… ia nikah 10 kali, 100 kali, 5 kali… apa saja usaha mereka… apa yang mereka lakukan… mereka sangat senang mengambil apa saja, bahkan sampai hal-hal yang terkecil untuk menciptakan fitna dan kebingungan di negri ini.

Grandsyekh memberi contoh (semoga Allah SWT mensucikan jiwanya ketika menerangkan hal ini). Beliau berkata bagaikan kalian mempunyai hewan-hewan ternak di ladang kalian, kalian mempunyai biri-biri, lembu dan hewan lainnya di ladang kalian kemudian kalian melihat kebun tetangga kalian dan berkata kepadanya, “Lihat! Banyak nyamuk di pohon-pohon kalian,” sementara itu kalian melupakan ladang kalian sendiri di mana binatang buas menerkam dan memangsa semua biri-biri dan lembu dan kalian memperhatikan nyamuk-nyamuk yang terbang di kebun tetangga kalian.

Jadi kalian harus mengetahui bahwa gunjingan semacam ini adalah dilarang. Dan jika kita sanggup, kita akan terus menggunjing semua orang bahkan sampai Nabi Adam AS. Ini adalah tabiat alami manusia dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri kalian dari gunjingan ini adalah melalui disiplin tarekat, di mana kita diharuskan untuk membaca “Ya Shamad” 500 kali setiap hari (setelah salat syukur—red).

Mereka berkata, “Mengapa kalian membutuhkan pemandu, seorang Syekh?” Seorang Syekh adalah pembimbing kalian, ia akan mengatakan kepada kalian apa yang harus kalian lakukan dan bagaimana cara menghindari gunjingan seperti ini, kalau tidak kalian akan lihat bahwa setiap orang saling menggunjing satu sama lain. Sekarang, orang-orang dengan keyakinan tertentu bertanya, “Mengapa kalian memerlukan seorang Syekh? Mengapa kalian membutuhkan pembimbing?” Bagaimana kalian akan mempelajari hal-hal seperti ini tanpa seorang pembimbing, seorang Syekh? Kalian akan tetap menggunjing orang lain.

Semoga Allah SWT memaafkan kita, semoga Allah SWT memberi dukungan kepada kita, semoga Allah SWT membimbing kita ke jalan yang benar, jalur yang benar dari sunnah Nabi SAW.

Rabbanaa taqabbal minna bi hurmatil habib bi hurmatil faatiha. Taqabballaah.

Monday, December 5, 2011

UNITY OF LOVE - Dec 20, 2011 - Jan 4, 2012


Jadwal Tentatif UNITY OF LOVE
Kunjungan Mawlana Syaikh Hisham Kabbani ar Rabbani qs di Indonesia

Selasa, 20 Des 2011
20.00-23.00WIB
Zikir dan Tausiyah di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia

Rabu, 21 Des 2011
(khusus Murid)
20.00-23.00WIB
Zikir dan hadrah di Rumah Bp. Fendi Siregar,
Jl. Pangkalan Jati No.131 Rt.01/02 Pondok Labu, Jakarta Selatan

Kamis, 22 Des 2011
20.00-23.00WIB
Maulid Nabi (s) bersama K.H. Amir Hamzah
di Pesantren Daarul Ishlah, Buncit Raya No.5, Kalibata Pulo, Jakarta Selatan
(di dekat Masjid Jami as-Salafiyah)

Jumat, 23 Des 2011
Salat Jumat di Masjid al-Istigna,
Kompleks Islamic Village, Karawaci,
Tangerang

Jumat, 23 Des 2011
18.00-21.00WIB
Zikir dan Tausiyah di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta Pusat

Sabtu, 24 Des 2011
Pertemuan dengan VIP

Minggu, 25 Des 2011
(khusus Murid)
20.00-23.00WIB
Zikir dan Hadrah di Rumah Bp. Malik Tarigan
Jl. Cempaka Putih Raya 114

Senin, 26 Des 2011
20.00-23.00WIB
Maulid Nabi (s) bersama Habib Syech Assegaf
di Masjid Mbah Kholil, Bangkalan, Madura

Selasa, 27 Des 2011 (Tentatif)
20.00-23.00WIB
Tabligh Akbar bersama Habib Syech Assegaf
di Masjid al-Akbar Surabaya

Rabu, 28 Des 2011
11.00-14.00WIB
Tabligh Akbar di Pesantren Darul Hikmah Mojokerto

Kamis, 29 Des 2011
20.00-23.00WIB
Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jaelani bersama Ust. Wahfiudin
di TQN Center, Masjid al-Mubarok, Rawamangun

Jumat, 30 Des 2011
Akan diumumkan kemudian

Sabtu, 31 Des 2011
20.00-23.00WIB
Maulid Nabi (s) bersama Habib Hasan bin Ja'far Assegaf
(Majelis Nurul Musthofa)
di Lapangan Polda Metro Jaya

Minggu, 1 Jan 2012
akan diumumkan kemudian

Senin, 2 Jan 2012
(khusus Murid)
20.00-23.00WIB
Hadrah di Permata Hijau

Selasa, 3 Jan 2012
Berangkat ke Singapura


Info lebih lanjut:
Yayasan Haqqani Indonesia
Jl. Teuku Umar No.41 Jakarta 10310
Telepon : +62-21-3153014
http://www.naqsybandi.org/

Thursday, December 1, 2011

We Await Three Signs of the Last Days

We Await Three Signs of the Last Days
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
12 March, 2011 Burton, Michigan
Link to original article
Click for translation in Bahasa Indonesia

Suhbah at As-Siddiq Mosque
(Day after catastrophic earthquake/tsunamis in Japan)

A`oodhu billahi min ash-Shaytani 'r-rajeem. Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Raheem

Nawaytu 'l-arba'een, nawaytu'l-'itikaaf, nawaytu'l-khalwah, nawaytu'l-riyaada, nawaytu's-salook, nawaytu'l-'uzlah, nawytu as-siyam lillahi ta'ala fee hadha'l-masjid.

Ati`ullaha wa ati`u 'r-Rasoola wa ooli 'l-amri minkum.

Obey Allah, obey the Prophet, and obey those in authority among you. (4:59)

As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Dastoor yaa Sayyidee, madad.

Too many news are coming from here and there. It makes people confused about what they listen to, and it makes people analyze events according to their capacity and understanding. A high school student cannot understand teachings of a university professor; perhaps only PhD students might understand what the professor teaches a higher level of educated people. Still, that high school student may hear and understand some of what is taught, but he cannot analyze its full meaning.Why did the Prophet (s) say about Sayyidina `Ali (r):

أنا مدينة العلم و علي بابها

Ana madeenatul-`ilm wa `aliyyun baabuha.

I am the City of Knowledge and `Ali is its door.

Why didn’t he say, “All the Companions are my door?” He also specified that Sayyidina Abu Bakr is “different” and more “special” than the others, because of something special that settled in his heart, which not everyone can understand. So some might think the literal meaning of, “`Ali is the door of knowledge,” and “a special thing in the heart of Sayyidina Abu Bakr,” is love of the Prophet (s), who also said, “If there would be another prophet after me, it would be `Umar." But then where is Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Ali, and Sayyidina Uthman (radiy-Allahu `anhum)? It means you need a window to that wali to understand what he is saying.

Sometimes car windows are tinted black, so from outside you cannot see anything, but someone sitting inside can see everything. So not everyone sitting is in the heart of the shaykh and can understand what he is saying. They are sitting outside, where they hear honking and they begin to honk also, and they say things that in reality is not honking, it is what that wali is saying inside to those sitting with him. Honking is for donkeys, to make them move from the middle of the road. Some donkeys, even if you honk and honk, they don't move; they are thinking and stubborn!

What about here? Are there no donkeys? Don't you see them? What do they do with the donkeys here? Some say, “We don't have any donkeys here.” No, it is full of donkeys! (laughter) So you see the donkey sitting in the road, thinking for fifteen minutes and not moving, and you can honk as much as you like. Some people do not understand about donkeys because they are donkeys. The horse will move, but the donkey will not move. They saw a donkey laughing and asked it, “Why are you laughing?” He said, “Yesterday they made a joke, and just now I understood it!”

So let the donkeys think as much as they like, because they will never understand what a wali says and the wisdom in it. If you don't understand the wisdom, then try to perfect yourself through your awraad, and different obligations, then you will begin to understand differently. For the horse they put blinders to restrict what it sees and where it looks. You must not put blinders; you must look around and see what is going on, then you can understand what the wali is speaking about.

A wali is not for dunya, he is for akhirah. So don't expect the wali to give you something to build up your dunya, as most of the work Prophet (s) entrusted to him is for your akhirah.

Sayyidina Abayazid al-Bistami (q) intentionally created confusion in order for people to curse him. Do you like to do that? He is one of biggest awliyaaullah, that even Ibn Taymiyya accepted. He went to a village to create confusion, and then he left; that was his mission. When the people cursed him and exiled him, through that he was testing his own patience, to see if he can carry that difficulty or not. People don’t understand that, they only understand that he made a mistake and they went after him. But in reality he was testing his own patience, and anyone who cursed him, he prayed, “Yaa Rabbee! Whoever cursed me, whatever of bad deeds he did, forgive him, and take from my good deeds and give to him.” Does anyone understand that? He did things to make people curse him and when they cursed him, he asked, "Yaa Allah! That person mentioned my name, so raise him!"

Grandshaykh (q) used to say, “If anyone mentions my name, I am obliged to pray for them to reach my level.” So you cannot reach their levels, you cannot reach and understand what they are saying. If an earthquake expert says to you, “There will be an earthquake on April 2nd, so prepare yourself,” if you believe that, what will you do? You will prepare yourself for that day in the best possible way. You might retreat to the jungle, take your food and hide there. When April 2nd comes and there is no earthquake, then what? Do you say the expert (wali) is wrong, or do you say there is wisdom in that?

How is that wali wrong? I am not saying every wali is perfect, but you prepare according to your level. If a doctor says, “You have cancer,” then what do you do? You prepare everything so that when your time comes, you go (with less worry).

Last Wednesday evening in Washington DC, I gave a suhbat. With Mawlana's baraka, I mentioned as he said, "Say to them that if Allah wants, He will bring this Earth upside down with a huge earthquake that will bring what is up to down and what is down to up.” And we said:

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا

idha zulzilat al-ardu zilzaalah, wa qaalat al-insaanu maa laha..."

When the Earth quakes with her [last] mighty quaking and [when] the Earth yields up her burdens and man cries out, "What has happened to her?" (az-Zalzala, 99:1-3)

That Allah (swt) will shake this Earth not only from its top but also from its bottom, and make tsunamis come, and human beings will ask, “What is going on?” Mawlana Shaykh said, “Say to them what is going on.” And what happened? That earthquake hit the next day. (The lesson for us is) awliya are entrusted by the Prophet (s) and when they say something in public it has a meaning, and when they say something of spirituality it has a different meaning. When they say something in public, it is the same for a spiritual-level child or adult, as they did not yet reach a level of higher understanding. When awliyaaullah tell you something in private, that is at a different level. So don’t panic about what Mawlana Shaykh said two or three days ago! He wants warn you, so you will prepare yourself and go higher and higher.

If someone says tells you that you have cancer, you will quickly prepare yourself for the outcome. When Mawlana Shaykh says, “Mahdi is coming,” then prepare yourself with food and supplies as there is no time! Really Mawlana wants you and your family to be in a state of perpetual preparation, always anticipating the arrival of Sayyidina Mahdi (a)! First of all, to prepare yourself you make niyyah that you are ready for him, and by that you will be with him! To prepare yourself for relief is worship. Mawlana Shaykh wants to give you that level as if you are already with Sayyidina Mahdi (a), as if you are fulfilling his orders and doing what he wants! Then you will be rewarded with everything you do in your life as if you truly are waiting for him.

There are Signs of the Last Days that we are waiting for. Most of the signs the Prophet (s) predicted did appear, but there are some two signs that did not appear yet. So Mawlana Shaykh wants that you will be written in Mahdi's time. It means, don't panic! If you say to yourself that you are a man or woman of Mahdi’s time, then wherever you are, you will be there with him, by recitation of “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Raheem.” You will be transferred by heavenly power to wherever Mahdi is. So don't panic, just do what you are doing.

Did Mawlana say to those close to him to stop working? (No.) Then why are you running in different directions to find out what to do? Mawlana Shaykh said three signs must occur before Mahdi appears. Awliyaaullah are waiting for them and if these three signs did not come, still we are waiting for them. Grandshaykh `AbdAllah al-Fa'iz ad-Daghestani (q) mentioned them. One of them is that a big mountain near Bursa will explode with ashes and red lava running to Istanbul, putting it in fire. Did that happen? No! So we await that.

Second, Cairo is going to sink underwater from the Aswan Dam, which did not exist when Sayyidina Ibn `Arabi's predicted in his book, Futuhat al-Makkiyya, that the Nile will flood and water will rise to cover the minaret of the Muhammad `Ali Mosque in Cairo. Grandshaykh (q) said there is a sign on the minaret of that mosque, which is very high, where the water is going to reach. Not until the 1960’s did anyone know about the Aswan Dam, which Gamal Abdel Nasser built. Today we don't know how much of it is eaten, that it will collapse and flood the area. So I am worried about the people of Cairo, but first the destruction of Istanbul must occur.

The third sign is when Cyprus sinks into the sea; that is the prediction. So as long as Mawlana Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani is in Cyprus, when he leaves Cyprus, then you may panic, call and send messages!

So put things together! When a wali, particularly Sultan al-Awliya, Mawlana Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani says something, you must pay attention. Also, when Mawlana Shaykh moves he it will not be to Istanbul; he will move to Sham ash-Shareef. Why aren’t his two sons moving (away from Cyprus and Istanbul)? That means prepare yourself and get the reward, but don't panic and ask what we have to do!

If you don't understand Mawlana Shaykh, you will never understand. I am waiting for fifty years for Mahdi (a), so listen and understand. If you live a thousand years or even one month in preparation for Mahdi’s arrival, then it is the same as someone who lived one month. That means for all mureeds who are waiting, it is going to open a big reward. That opening appeared in Rabi al-Awwal, that who is waiting for Mahdi will be dressed with special rewards and lights from Prophet (s) and Mahdi (a)!

When the three signs we mentioned appear, still Mahdi will not appear. First there will be a huge battle between two parties that will dispute one issue. That must occur before Mahdi arrives. That will not be between the Middle East and Europe, but between two big world powers. That is a prediction from the Prophet (s) about Signs of Last Days, that a huge war will continue for three months.

So now you have three signs that have to appear: the Bursa Mountain is going to blow up and lava will come to Istanbul; Cairo will be flooded and water will reach to top of Mohammad `Ali Mosque's minaret; and then Cyprus will disappear. Then there will be a big war for three months. After that, they will come to Istanbul and with takbeer and the walls will fall down, like during a fire if you recite takbeer the fire goes down (extinguishes). So at that time, by the power of Mahdi, all technology will stop.

There will be those with Mahdi; those with the Anti-Christ will be destroyed. Don't panic and worry, because by the power of “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Raheem” you will be anywhere! Don’t worry about me travelling for several months; that is not a problem. Mawlana Shaykh asked me to be with him for three months; there are things Mawlana Shaykh wants to say to me, and insha-Allah khayr.

Just remember: there are signs which must come and at any moment, but there is space between them, and then an additional three months. The eruption of a volcano near Istanbul, then Cairo sinking until water reaches the minaret at the Muhammad `Ali Mosque, and the sinking of Cyprus. Still Mawlana Shaykh is sitting there in his jubba, eating and meeting with people. If that is happening, Mawlana must move. If he is moving, he must also move his whole tribe that is in that house! So relax, as all that will take time.

What Mawlana Shaykh wants to say is, “Don't come and visit in Cyprus.” One month ago, before Tunisia, Egypt, and Bahrain protests erupted, before the earthquake, we went to Chile and Argentina. Some people came there from Brazil, and said they wanted to visit Mawlana Shaykh. They sent a message three or four weeks ago. By then only Tunisia and Egypt protests started.. I told `Ali to send a message to them, "No one come to visit Mawlana Shaykh." Why? Not because of Mahdi coming, as the signs didn't happen yet, but Mawlana doesn't want people to be stuck there. There will be a no-fly zone there, and aircraft carriers offshore, so how you can go and come back? You will be stuck, and your family is in Brazil or Argentina.

That is why, if you understand correctly, he said, “If people are a few hours away from me they can come for three days.” That means as near as London. Why did he allow the people to come for three days? Cyprus will be an island between those big vessels, so they can run quickly to their countries.

This means don't worry or panic, relax! If you like, send us a message and we can explain. May Allah (swt) make us to understand the awliya.

Wa min Allahi 't-tawfeeq, bi hurmati 'l-habeeb, bi hurmati 'l-Fatihah.

Wednesday, June 30, 2010

Anjuran dari MSN untuk menyaksikan SUFILIVE.COM

Bismillahi Rahmani Rahiim

As-salaamu `alaykum dari kediaman pribadi Sultan al-Awliya. Sultan kita Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani memberi salam dan sapaan cinta dan hormat kepada semua orang. Sultan mengundang teman-teman dan keluarga Anda untuk menyaksikan siaran Sufilive.com. Kita telah mempunyai peningkatan jumlah pemirsa setiap harinya dan masya Allah, kita senang dengan siaran tersebut.

Mohon sebarkan pesan ini ke semua website, blog dan forum yang Anda ketahui atas nama Mawlana Syekh Nazim, bahwa Syekh Hisyam sangat mendorong/menganjurkan/mengajak/meminta agar Anda semua dapat lebih sering menyaksikan Sufilive.com dan berusaha untuk menggandakan jumlah pemirsa dari 600 hingga 1200.

Juga, jangan lupa bahwa kini siarannya dapat diakses melalui iPhone, Blackberry, dan ponsel Android.

Kami mohon agar Anda dapat mengakses Sufilive setiap hari, sehingga kita dapat mencapai target kita dengan cepat dan membuat Sultan lebih senang selama bulan suci Rajab ini. Kami sangat menghargai dukungan Anda dan mengharapkan lebih banyak orang dapat menyaksikan Sufilive.com.

Pesan ini adalah dari Syekh Hisyam dari kediaman Mawlana Syekh di Lefke.

Monday, May 31, 2010

Poem


I saw my Lord with the eye of my heart
I said no doubt it's You! It's You!

You are the One who
encompassed every "where"
So that is no "where", except You are there

"Where" has no "where"
in regards to You

for "where" to know where You are

nor can imagination, imagine You
for imagination to know where You are

Your knowledge encompasses everything
So that everything I see is You

And in my annihilation,
is the annihilation of my annihilation
And in my annihilation, I found You.

Monday, October 26, 2009

Jadwal Kunjungan MSH di Indonesia (29 Okt - 7 Nov 2009)


JADWAL KUNJUNGAN MAWLANA SHAYKH HISYAM (MSH) KE INDONESIA
29 Oktober - 7 November 2009

Rabu, 28 Oktober 2009

14.00: Tiba di Jakarta
15.00: Penyambutan di Permata Hijau
Jl. Limo No. 7
RT 03/RW 05
Grogol Selatan, Kby. Lama
Jakarta Selatan

MALAM HARINYA TIDAK ADA ACARA


Kamis, 29 Oktober 2009

19.30: Dzikir & ceramah di Masjid Baitul Ihsan
Komp. Bank Indonesia, Jl. Budi Kemuliaan No. 23, Jakarta Pusat


Jumat, 30 Oktober 2009

11.00-13.00: Shalat Jumat di Masjid Baitul Ihsan
Komp. Bank Indonesia, Jl. Budi Kemuliaan No. 23, Jakarta Pusat

20.00: Dzikir & Maulid di Masjid Al Bina
Jl. Pintu Satu, Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan


Sabtu, 31 Oktober 2009

TBA


Minggu, 1 November 2009

VIP MEETING


Senin, 2 November 2009

10.00: berangkat ke Bali


Selasa, 3 November 2009

20.00: Zikir & ceramah di Masjid al-Ikhlash Sanur
Dekat Sanur Beach Hotel


Rabu, 4 November 2009

20.00: Zikir & ceramah di Villa Kampungku
Jl. Danau Tamblingan 75A, Sanur


Kamis, 5 November 2009

19.00: Maulid di Pesantren Darul Islah, Warung Buncit, Jakarta Selatan
(dekat masjid As-Salafiyah)


Jumat, 6 November 2009

11.00: Hajjah Nazihe memimpin Ladies Dhikr, MSH ke Masjid Pondok Indah

14.00: Ceramah Spiritual di Paramadina

19.00: Tabligh Akbar bersama Habib Jindan bin Novel, Ustadz Jefri Bukhori
K.H. Amir Hamza, Ust.Asfa Davi Bya


Sabtu, 7 November 09

19.00: Acara khusus untuk murid di Hall Arifin Panigoro
Universitas Al-Azhar, Jl. Sisingamangaraja, Jakarta Selatan


Minggu, 8 November 2009

11.00: Berangkat ke Singapura



Informasi lebih lanjut:

Yayasan Haqqani Indonesia
Jl. Teuku Umar No.41 Menteng
Jakarta Pusat, INDONESIA
Tel/fax: +6221 315 3014
Mobile: +62813 8497 1997
Email: yayasan_haqqani_indonesia@yahoo.com
www.naqsybandi.web.id

Sunday, March 1, 2009

Mawlana Shaykh Nazim memperkenalkan Mawlana Shaykh Hisyam

9 Januari 2008 - Mawlana Shaykh Hisyam Kabbani tiba di Lefke, Cyprus dalam kunjungan beliau kepada Sulthan-ul-Awliya Mawlana Shaykh Nazim. Dalam video ini, Shaykh Nazim memperlihatkan kegembiraannya atas kedatangan Shaykh Hisyam Kabbani dan beliau memberitahukan kepada yang hadir saat itu mengenai status dan realitas Mawlana Shaykh Hisyam sebagai perwakilan beliau.

Friday, February 27, 2009

Penciptaan Nur Muhammad SAW

Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Dikutip dari http://nurmuhammad.com/NurNabi/creationlightofmuhammad.htm
Alih bahasa oleh Syaikh Sutono



Suatu hari Sayyidina Ali, karam Allahu wajhahu, misan dan menantu Nabi Suci SAW bertanya, “Wahai Muhammad SAW, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon ceritakanlah padaku apa yang diciptakan Allah SWT sebelum semua makhluk diciptakan?”

Berikut ini adalah jawaban beliau yang indah:

Sesungguhnya, sebelum Rabb-mu menciptakan yang lainnya, Dia menciptakan Nur Nabimu dari Nur-Nya, dan Nur itu diistirahatkan haithu masyaAllah, di mana Allah SWT menghendakinya untuk beristirahat. Dan pada waktu itu tidak ada hal lainnya yang hadir – tidak ada Lawhul Mahfuzh, tidak ada Qalam, Surga maupun Neraka, tidak ada Malaikat Muqarrabin (Angelic Host), tidak ada langit maupun bumi; tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jinn, manusia ataupun malaikat – belum ada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.

Kemudian Allah SWT, Subhanallah, dengan Iradat-Nya, Dia menghendaki adanya ciptaan. Dia kemudian membagi Nur ini menjadi empat bagian. Dari bagian pertama Dia menciptakan Qalam, dari bagian kedua Lawhul Mahfuzh, dari bagian ketiga Arsy.

Kini telah diketahui bahwa ketika Allah SWT menciptakan Lawhul Mahfuzh dan Qalam, pada Qalam itu terdapat seratus simpul, jarak antara kedua simpul adalah sejauh dua tahun perjalanan. Allah SWT kemudian memerintahkan Qalam untuk menulis, dan Qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus kutulis?” Allah SWT berkata, “Tulislah: laa ilaha illAllah, Muhammadan Rasulullah SAW.” Terhadap hal itu Qalam berseru, “Oh, sungguh sebuah nama yang indah dan agung - Muhammad SAW- bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, yaa Allah.”

Allah SWT kemudian berkata, “Wahai Qalam, jagalah kelakuanmu! Nama ini adalah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya Aku menciptakan Arsy, Qalam dan Lawhul Mahfuzh; jadi engkau juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun.” Ketika Allah SWT telah mengucapkan kalimat tersebut, Qalam itu terbelah dua karena takutnya terhadap Allah SWT, dan tempat dari mana ucapannya tadi keluar menjadi tertutup/terhalangi dan hingga kini ujungnya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak lagi menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung. Oleh sebab itu, jangan sampai ada satu orang pun yang gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci SAW, atau menjadi lalai dalam mengikuti suri teladan beliau yang baik, atau membangkang dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.

Kemudian Allah SWT memerintahkan Qalam untuk menulis. “Apa yang harus aku tulis, Ya Allah?” tanya Qalam. Kemudian Rabbal `Alamin berkata, “Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan!” Qalam berkata, “Ya Allah, dari mana aku harus memulai?” Allah SWT berfirman, “Kamu harus memulai dengan kata-kata ini, Bismillah al-Rahmaan al-Rahiim.” Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian Qalam bersiap untuk menulis kata-kata itu pada Lawhul Mahfuzh, dan dia menyelesaikan tulisan itu dalam waktu 700 tahun.

Ketika Qalam telah menulis kata-kata itu, Allah SWT berbicara dan berkata, “Engkau telah memakan waktu 700 tahun untuk menulis tiga Nama-Ku; Nama Keagungan-Ku, Kasih Sayang-Ku dan Empati-Ku. Tiga kata-kata yang penuh berkah ini Aku buat sebagai hadiah bagi ummat Kekasih-Ku Muhammad SAW.”

Dengan Keagungan-Ku, Aku berjanji bahwa bilamana hamba mana pun dari ummat ini menyebutkan kata ‘Bismillaah’ dengan niat yang murni, Aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuknya, dan 700 tahun dosa akan Ku hapuskan.”

Kemudian bagian keempat dari Nur itu, Aku bagi lagi menjadi empat bagian:

Dari bagian yang pertama Aku ciptakan Malaikat Penyangga Singgasana (hamalat al-`Arsy);

Dari bagian kedua Aku telah ciptakan Kursi, majelis Ilahiah (Langit atas yang menyangga singgasana Ilahiah, `Arsy);

Dari bagian ketiga Aku ciptakan seluruh malaikat langit lainnya;

Dan bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian: dari bagian pertama, Aku membuat semua langit; dari bagian kedua, Aku membuat bumi-bumi; dari bagian ketiga, Aku membuat Jinn dan api. Bagian keempatnya Aku bagi lagi menjadi empat bagian: dari bagian pertama, Aku membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; dari bagian kedua Aku membuat cahaya di dalam hati mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiah; dari bagian ketiga, Ku-ciptakan cahaya bagi lidah mereka yang adalah cahaya Tawhid (Hu Allahu Ahad); dan dari bagian keempat, Aku membuat berbagai cahaya dari ruh Muhammad SAW.

- Ruh yang cantik ini diciptakan 360.000 tahun sebelum penciptaan dunia ini.
- Ruh itu dibentuk dengan sangat cantik dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan.
- Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati.
- Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah SWT).
- Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan.
- Pipinya dari cinta dan kehati-hatian,
- Perutnya dari tirakat terhadap makanan dan hal-hal keduniaan.
- Kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus.
- Hatinya yang mulia dipenuhi dengan rahman.

Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat dan dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalah-Nya dan kualitas kenabiannya dipasang.

Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah dipasangkan pada kepalanya yang penuh berkah, masyhur dan tinggi di atas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan diberi nama Habibullah (Kekasih Allah SWT) yang murni dan suci.

Dua belas Tabir {12 Bulan, 12 Rabiul Awal, 12 suku, 12 Menunjukkan Penuntasan}

Sesudah itu Allah SWT menciptakan dua belas tabir.

Pertama adalah Tabir Kekuatan di mana Ruh Nabi SAW bermukim (tinggal) selama 12.000 tahun, membaca Subhana rabbi al-’ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi).

Kedua adalah Tabir Kebesaran di mana dia ditutupi selama 11.000 tahun, mengucapkan, Subhanal ’Alim ul-Hakim (Maha Suci Rabb-ku, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana).

Dia dipingit selama 10.000 tahun dalam Tabir Kebaikan, mengucapkan Subhana man huwa da’im, la yaqta (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Abadi, Yang Tidak Berakhir).

Tabir keempat adalah Tabir Rahman, di situ ruh mulia itu tinggal selama 9.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana-rafi’-al-`ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Ditinggikan, Maha Tinggi).

Tabir kelima adalah Tabir Nikmat, dan di situ ruh tinggal selama 8.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwa qa’imun la yanam. (Maha Suci Rabb-ku Yang Selalu Ada, Yang Tidak Tidur).

Tabir keenam adalah Tabir Kemurahan; di mana dia tinggal selama 7.000 tahun, memuja, Subhana-man huwal-ghaniyu la yafqaru (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Kaya, Yang Tidak Pernah Menjadi Miskin).

Kemudian diikuti tabir ketujuh, Tabir Kedudukan. Di sini ruh yang tercerahkan itu tinggal selama 6.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwal Khaliq-an-Nur (Maha Suci Rabb-ku Maha Pencipta, Sang Cahaya).

Berikutnya, Dia menyelimutinya dengan tabir kedelapan, Tabir Petunjuk di mana dia tinggal selama 5.000 tahun, memuja Allah SWT dan berkata, Subhana man lam yazil wa la yazal. (Maha Suci Rabb-ku Yang Keberadaan-Nya Tak Pernah Berhenti, Yang Tidak Musnah).

Kemudian diikuti tabir kesembilan, yaitu Tabir Kenabian di mana dia tinggal selama 4.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man taqarrab bil-qudrati wal-baqa. (Maha Suci Rabb-ku yang Mengajak Dekat dengan Maha Kuat dan Maha Langgeng).

Kemudian datang Tabir Keunggulan, tabir kesepuluh di mana ruh yang tercerahkan ini tinggal selama 3.000 tahun, membaca puji-pujian untuk Pencipta dari Semua Sebab, mengucapkan, Subhana dzil-’arsyi ‘amma yasifun. (Maha Suci Rabb-ku Pemilik Singgasana Di atas Semua Karakter Yang Dilekatkan Kepada-Nya).

Tabir kesebelas adalah Tabir Cahaya. Di sana dia tinggal selama 2.000 tahun, berdo`a, Subhana dzil-Mulk wal-Malakut. (Maha Suci Rabb-ku Maha Raja semua Kerajaan Langit dan Bumi).

Tabir kedua belas adalah Tabir Intervensi (Syafa’at), dan di sana dia tinggal selama 1.000 tahun, mengucapkan, Subhana-rabbi al-’azhim (Maha Suci Rabb-ku, Maha Anggun).

Penciptaan AHMAD SAW Tercinta

Setelah itu Allah SWT menciptakan sebuah pohon yang dikenal sebagai Pohon Kepastian.

Pohon ini memiliki empat cabang. Dia menempatkan ruh yang diberkahi tadi pada salah satu cabang, dan dia terus menerus memuja Allah SWT selama 40.000 tahun, mengucapkan, Allahu dzul-Jalaali wal-Ikram. (Allah SWT, Pemilik Keperkasaan dan Kebaikan).

Setelah dia memuja-Nya dengan cara demikian itu, dengan pepujian yang banyak dan beragam, Allah SWT menciptakan sebuah cermin, dan Dia meletakannya sedemikian hingga menghadap ruh Habibullah, dan memerintahkan ruh tersebut untuk memandangi cermin itu.

Ruh itu melihat ke dalam cermin dan melihat dirinya terpantul sebagai pemilik bentuk yang paling cantik, indah dan sempurna.

Dia kemudian membaca lima kali, Syukran lillahi ta’ala (terima kasih kepada Allah SWT, Maha Tinggi Dia), dan tersungkur dalam posisi sujud di hadapan Rabb-nya. Dia tetap bersujud seperti itu selama 100 tahun, mengucapkan Subhanal-aliyyul-azhim, wa la yajhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Tinggi, Maha Anggun, Yang Tidak Mengabaikan Apapun); Subhanal-halim alladzi la yu’ajjalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Toleran, Yang Tidak Tergesa-gesa); Subhanal-jawad alladzi la yabkhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Pemurah Yang Tidak Pelit).

Karena itulah Penyebab (adanya) makhluk mewajibkan ummat Muhammad SAW untuk melakukan sujud (sajda) lima kali dalam sehari – lima shalat - dalam kurun waktu siang hingga malam. Ini adalah sebuah hadiah kehormatan bagi ummat Muhammad SAW.

Dari Nur Muhammad SAW

Berikutnya Allah SWT menciptakan sebuah lampu jamrud hijau dari Cahaya,

· dan dilekatkan pada pohon tadi, melalui seuntai rantai cahaya.

· Kemudian Dia menempatkan ruh Muhammad SAW di dalam lampu itu dan memerintahkannya untuk memuja Dia dengan Nama Paling Indah (Asma al-Husna).

· Perintah itu dilakukannya, dan dia mulai membaca setiap satu dari Nama itu selama 1.000 tahun. Ketika dia sampai kepada Nama ar-Rahman (Maha Kasih), pandangan ar-Rahman jatuh kepadanya dan ruh itu mulai berkeringat karena kerendahan hatinya.

· Tetesan keringat jatuh dari dirinya, setiap tetes beraroma mawar berubah menjadi ruh seorang nabi menjadi nabi dan rasul.

· Mereka semua berkumpul di sekitar lampu di pohon itu, dan Allah Azza wa Jalla berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Lihatlah! Ini sejumlah besar nabi yang Aku ciptakan dari tetesan keringatmu yang menyerupai mutiara.”

· Mematuhi perintah itu, dia memandangi mereka, dan ketika cahaya mata itu menyentuh/menyinari objek tersebut, maka ruh para nabi itu sekonyong-konyong tenggelam dalam Nur Muhammad SAW, dan mereka berteriak, “Ya Allah, siapa yang menyelimuti kami dengan cahaya?”

· Allah SWT menjawab mereka, “Ini adalah Cahaya dari Muhammad SAW Kekasih-Ku, dan jika kalian akan beriman kepadanya dan menegaskan risalah kenabiannya, Aku akan menghadiahkan kepada kalian kehormatan berupa kenabian.”

· Dengan itu, semua ruh para nabi itu menyatakan iman mereka kepada kenabiannya, dan Allah SWT berkata, “Aku menjadi saksi terhadap pengakuanmu ini,” dan mereka semua setuju. Sebagaimana disebutkan di dalam al Quran yang Suci:

Dan ketika Allah SWT bersepakat dengan para nabi itu : Bahwa Aku telah memberi kamu Kitab dan Kebijakan; kemudian akan datang kepadamu seorang Rasul yang menegaskan kembali apa-apa yang telah apa padamu–kamu akan beriman kepadanya dan kamu akan membantunya; apa kamu setuju? Dia berkata. Dan apakah kamu menerima beban-Ku kepadamu dengan syarat seperti itu. Mereka berkata, ‘Benar kami setuju.’ Allah SWT berkata, ‘Bersaksilah demikian, dan Aku akan bersama kamu di antara para saksi.’

(Ali Imran, 3:75-76)

· Kemudian ruh yang murni dan suci itu kembali melanjutkan bacaan Asma ul-Husna lagi.

· Ketika dia sampai kepada Nama al-Qahhar, kepalanya mulai berkeringat sekali lagi karena intensitas dari al- Qahhar itu, dan dari butiran keringat itu Allah SWT menciptakan ruh para malaikat yang diberkati.

· Dari keringat pada mukanya, Allah SWT menciptakan Singgasana dan Hadirat Ilahiah, Kitab Induk dan Qalam, matahari, rembulan dan bintang -bintang.

· Dari keringat di dadanya, Dia menciptakan para ulama, para syuhada dan para mutaqin.

· Dari keringat pada punggungnya dibuatlah Bayt-al-Ma’mur (rumah surgawi), Kabatullah (Ka’bah), dan Bayt-al-Muqaddas (Haram Jerusalem), dan Rawdha-i-Mutahharah (kuburan Nabi Suci SAW di Madinah), begitu juga semua mesjid di dunia ini.

Dari keringat pada alisnya dibuat semua ruh kaum beriman, dan dari keringat punggung bagian bawahnya (sulbi, coccyx) dibuatlah semua ruh kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung.

Dari keringat di kakinya dibuatlah semua tanah dari timur ke barat, dan apa-apa yang berada di dalamnya. Dari setiap tetes keringat itulah ruh orang beriman atau tak-beriman dibuatnya. Itulah sebabnya Nabi Suci SAW disebut juga sebagai “Abu Arwah”, Ayah para Ruh. Semua ruh ini berkumpul mengelilingi ruh Muhammad SAW, berputar mengelilinginya dengan puji-pujian dan pengagungan selama 1.000 tahun; kemudian Allah SWT memerintahkan ruh-ruh itu untuk memandang ruh Muhammad SAW. Ruh-ruh tersebut mematuhinya.

Siapa Memandang kepada Ruh Muhammad SAW

Nah, di antara mereka yang pandangannya jatuh pada kepalanya ditakdirkan menjadi raja dan kepala negara di dunia ini. Mereka yang memandang pada dahinya menjadi pemimpin yang adil. Mereka yang memandang matanya akan menjadi hafiz Kalimat Allah SWT (yaitu seorang yang memegangnya ke dalam ingatannya). Mereka yang memandang alisnya akan menjadi pelukis dan artis. Mereka yang memandang telinganya akan menjadi orang yang menerima peringatan dan nasihat. Mereka yang melihat pipinya yang penuh berkah menjadi pelaksana karya yang bagus dan pantas. Mereka yang melihat mukanya menjadi hakim dan pembuat wewangian, dan mereka yang melihat bibirnya yang penuh berkah menjadi menteri.

Barang siapa melihat mulutnya akan menjadi orang yang banyak berpuasa. Barangsiapa yang melihat giginya akan menjadi kelihatan bagus/cantik, dan siapa yang melihat lidahnya akan menjadi utusan/duta raja-raja. Barang siapa melihat tenggorokannya yang penuh berkah akan menjadi khatib dan mu’adzin (yang mengumandangkan adzan). Barang siapa memandang janggutnya akan menjadi pejuang di jalan Allah SWT. Barang siapa memandang lengan atasnya akan menjadi seorang pemanah atau pengemudi kapal laut, dan barang siapa melihat lehernya akan menjadi usahawan dan pedagang.

Siapa yang melihat tangan kananya akan menjadi seorang pemimpin, dan siapa yang melihat tangan kirinya akan menjadi seorang pembagi (yang menguasai timbangan dan mengukur catu kebutuhan hidup). Siapa yang melihat telapak tangannya menjadi seorang yang gemar memberi; siapa yang melihat belakang tangannya akan menjadi kolektor. Siapa yang melihat bagian dalam dari tangan kanannya menjadi seorang pelukis; siapa yang melihat ujung jari tangan kanannya akan menjadi seorang kaligrafer, dan siapa yang melihat ujung jari tangan kirinya akan menjadi seorang pandai besi.

Siapa yang melihat dadanya yang penuh berkah akan menjadi seorang terpelajar, meninggalkan keduniaan (zuhud) dan berilmu. Siapa yang melihat punggungnya akan menjadi seorang yang rendah hati dan patuh pada hukum syariat. Siapa yang melihat sisi badanya yang penuh berkah akan menjadi seorang pejuang. Siapa yang melihat perutnya akan menjadi orang yang puas, dan siapa yang melihat lutut kanannya akan menjadi orang yang melaksanakan ruku dan sujud. Siapa yang melihat kakinya yang penuh berkah akan menjadi seorang pemburu, dan siapa yang melihat telapak kakinya menjadi orang yang suka bepergian. Siapa yang melihat bayangannya akan mejadi penyanyi dan pemain saz (lute). Semua yang memandang tetapi tidak melihat apa-apa akan menjadi kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung. Mereka yang tidak memandang sama sekali akan menjadi orang akan menyatakan bahwa dirinya adalah tuhan, seperti Namrud, Fir’aun dan sejenisnya.

Kini semua ruh itu diatur dalam empat baris.

· Di baris pertama berdiri ruh para nabi dan rasul,

· Di baris kedua ditempatkan ruh para orang suci, para sahabat Allah SWT;

· Di baris ketiga berdiri ruh kaum beriman, laki-laki dan perempuan;

· Di baris keempat berdiri ruh kaum tak-beriman.

Semua ruh ini tetap berada dalam dunia ruh di Hadirat Allah SWT sampai waktu mereka tiba untuk dikirim ke dunia fisik.

Tidak seorang pun tahu kecuali Allah SWT yang tahu berapa selang waktu dari waktu diciptakannya ruh penuh berkah Nabi Muhammad SAW sampai diturunkannya dia dari dunia ruh ke bentuk fisiknya itu.

Diceritakan bahwa Nabi Suci Muhammad SAW bertanya kepada Malaikat Jibril AS,

· “Berapa lama sejak engkau diciptakan?”

· Malaikat itu menjawab, “Ya Rasulullah SAW, aku tidak mengetahui jumlah tahunnya, yang aku tahu bahwa setiap 70.000 tahun seberkas cahaya gilang gemilang menyorot keluar dari belakang kubah Singgasana Ilahiah; sejak waktu saya diciptakan cahaya ini muncul 12.000 kali.”

· “Apakah engkau tahu apakah cahaya itu?” tanya Muhammad SAW.

· “Tidak, aku tidak tahu,” malaikat itu berkata. “Itu adalah Nur ruhku dalam dunia ruh,” jawab Nabi Suci SAW. Pertimbangkanlah kemudian, berapa besar jumlah itu, jika 70.000 dikalikan 12.000!


Wa min Allah at tawfiq

Sumber:
Muhammad SAW: The Messenger of Islam in Ottoman Turkish by Hajjah Amina Adil

Wednesday, February 18, 2009

Tahun Penuh Peluang

TAHUN PENUH PELUANG
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani
Hari Kamis, 1 Januari 2009
Lefke, Siprus
Diambil dari SufiLive.com

[Dituliskan oleh Khairiyah Siegel]

Terima kasih kepada Sri Rahayu Handayani yang telah berkenan menterjemahkan serta mem-posting suhbat ini ke milis Muhibbun Naqsybandi


Sebuah Pesan dari Mawlana untuk Kalian!

Au'dzu billahi min asy-syaitan ir-rajiim. Bismillahir-Rahmanir-Rahiim
Nawaytul-arbai'in, nawaytul-'itikaf, nawaytul-khalwah, nawaytul-riyadha, nawaytus-suluk, nawaytul-'uzlah lillahi ta'ala fi hadza'l-masjid

Ati' Allahu wa ati'ur-Rasul wa ulu'l-amri minkum. Madad, ya Sayyidi, ya Sultanu-l Awliya, Sayyidi Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani.


Pertama-tama, saya ingin sampaikan bahwa Mawlana meminta dan memerintahkan saya untuk menyampaikan kepada kalian bahwa beliau mencintai kalian, merindukan kalian dan kalian semua selalu berada dihati beliau. Dan insya Allah, apabila cuaca membaik beliau segera bersama kalian seperti biasanya, selalu bersama dengan siapapun yang datang berkunjung dan memerlukan nasehat.

Kadang Awliyaullah sulit dipahami. Dimana pun kalian berada, dimanapun kedudukan kalian. Bertahun-tahun bersama Awliyaullah, namun masih saja sangat sulit memahami setetes makna seorang wali. Dan seperti diketahui, Rasulullah SAW biasa bercakap-cakap dengan para Sahabat. Memberi mereka hadis, dari ucapan, mengajari Sahabat, menyampaikan pesan Allah SWT – melalui Kitab Suci al Qur'an dan melalui Sunnah Rasulullah SAW. Dan sebagaimana kalian ketahui bahwa tidak seorang sahabipun – artinya tidak seorang sahabatpun yang mengetahui segala hal. Maksud "segalanya" yaitu seorang sahabi tidak selalu hadir di tiap kesempatan bersama Rasulullah SAW saat beliau memberikan nasehat atau ajaran. Itulah mengapa sekarang kita melihat banyak kita kumpulan-kumpulan hadis-hadis Nabi SAW. Seorang Sahabi mengatakan ini, Sahabat yang lain berkata itu... Sahabat yang itu mendengar itu dari Rasulullah SAW. Beberapa sahabat mendengar 10 buah hadis, beberapa lagi mendengar 20 hadis, yang lain mendengar 100, 1.000 buah hadis. Namun dalam dasarnya, mereka semua tidak mendengar semua hadis itu pada waktu yang bersamaan.

Itulah mengapa terkadang beberapa Sahabat berkata: "Oh, kami tidak mendengar mengenai hal itu." Mereka biasanya menggunakan argumen-argumen ini; saya tidak akan menjelaskannya dengan detil, namun mereka biasanya menggunakan argumen ini diantara mereka sendiri. Salah satu dari mereka berkata: "Aku tidak mendengar itu" atau yang lain berkata: "Tidak, aku mendengarnya," dan yang lainnya berkata: "Tidak, aku tidak mendengarnya" atau yang lainnya berkata: "Tidak, aku mendengarnya ." Dan hadis lainnya. Hadis berubah dari satu ke yang lainnya, tidak semua dari Sahabat yang mendengarnya. Jika kalian mendengar sesuatu, saya tidak mendengarnya. Saya bisa saja memberitahu kalian: "Oh, saya tidak dengar tentang itu." Kalian mungkin memberitahu: "Tidak, saya tidak mendengar tentang itu."

Jadi, akan ada situasi seperti itu setelah masa Rasulullah SAW, dimana zaman tersebut masih ada para Sahabat. Dan zaman setelah Rasulullah SAW berulang, para Sahabat mengumpulkan hadis-hadis dan menyusunnya. Sebagai contoh. Misalnya Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq menyebutkan 24 atau 25 buah ahadis. Itu saja. Sayyidina Abu Bakar tidak menyebutkan lebih dari itu, meskipun beliau sangat dekat dengan Rasulullah SAW.

Allah SWT menyebutkan dalam Kitab Suci al Qur'an mengenai Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq radiallahu anhu, firman-Nya:

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Illa tanshuruuhu fa qad nasharahu Allahu idz akhrajahul ladziina kafaruu tsaaniyats naini idz humaa fil ghaari idz yaquulu li shaahibihii laa tahzan innAllaha ma'anaa fa anzalAllahu sakiinatahuu 'alaihi wa ayyadahu bi junuudil lam tarauhaa wa ja'ala kalimatal ladziina kafarus suflaa wa kalimatullahi hiyal 'ulya wAllahu 'aziizun Hakiim.
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [At Taubah (9):40]

Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina Abu Bakar, "Jangan bersedih, Allah bersama kita." Dan berapa hadis yang Sayyidina Abu Bakar riwayatkan? Hanya 24 atau 25 hadis! Dimanakah hadis yang lain?

Nah, yang ingin saya katakan dan simpulkan adalah sangatlah sulit untuk memahami Awliyaullah. Kalian mungkin mendengar sesuatu; saya mungkin mendengar sesuatu. Tergantung pada waktu, dan pada saat dan kesempatan tersebut, dimana maqam awliyaullah, di tingkat kenaikan yang mana seorang wali dihadapan Rasulullah SAW saat ia memberikan suatu nasehat.

Jika kalian perhatikan hadis-hadis Rasulullah SAW, sebuah hadis membahas sesuatu hal, kemudian hadis lainnya turun dengan lebih rinci dan membahas hal yang tidak disebutkan di hadis yang pertama. Mengapa? Karena, sebagai contoh, pertama kali Rasulullah SAW menyampaikannya sahabat ada katakanlah di tingkat X. Dilain waktu, ketika Rasulullah SAW mengalami kenaikan yang makin tinggi maka beliau bicara dari tingkat Z. Jadi, dari tingkat ke tingkat akan mengalami kenaikan atau mungkin saja berubah. Tergantung pada waktu dan situasinya.

Sangatlah penting memahami Awliyaullah karena mereka adalah pewaris Rasulullah SAW. Bagaimana cara memahami Awliyaullah? Suatu saat Awliyaullah mengatakan sesuatu tapi diwaktu lain mengatakan hal yang sama tapi lebih mendetil atau mungkin awliyaullah mengubahnya. Lalu kalian mulai berpikir, "Oh, apa maksud beliau?" Orang lain yang mendengarnya perkataan yang berbeda berkata, "Oh, tidak. Maksud beliau adalah ini." Itulah mengapa tidak semua orang dapat memahami seorang wali! Kita tidak dapat memahami Awliyaullah walau hanya setetes saja dari pengetahuan mereka.

Saya menghadap Mawlana Syaikh dan beliau berpesan, "Sampaikan cinta dan dukungan saya. Beritahukan kepada para murid mengenai cinta dan dukungan saya kepada mereka." Jadi, apakah maksud perkataan beliau ketika beliau berkata, "Aku mencintai dan mendukun mereka"? Itu adalah sebuah samudera.

Allah SWT berfirman dalam Kitab Suci al Qur'an kepada para Penghuni Gua:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته ويُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا

Wa idzi' tazaltumuuhum wa ma ya'buduuna illAllaha fa'wuu ilal kahfi, yansyur lakum Rabbukum mir rahmatihii wa yuhayyi' lakum min amrikum mirfaqaa.
Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. [Al-Kahfi (18):16]

Mereka berdebat, "Kemanakah kami harus berlari?" dan nasehat datang, "Larilah ke gua itu! Larilah ke gua itu!" Dalam gua itu Allah SWT akan mewujudkan Rahmat-Nya atas kalian. Tanpa memperhatikan apa yang sedang kalian lakukan, Allah SWT akan mengirimkan Rahmat-Nya atas kalian, Dia akan mengatur dan memperlihatkan pada kalian bimbingan-Nya, jalan-Nya.

Jadi, ketika Mawlana berkata, "Katakan kepada mereka bahwa aku mencintai dan mendukung mereka," artinya kita berada dalam gua (perlindungan) beliau! Beliaulah gua kemana kita harus berlindung. Bagi kita, gua itu seperti kalian lihat di GoogleMaps, kalian ingin melihat langit atau ingin melihat gedung apapun di muka bumi melalui Google – apa yang kalian lakukan? Kalian mengeceknya: memberikan alamat dan kemudian diperlihatkan kepada kalian sebuah wilayah. Namun wilayah itu sangat luas, jadi kalian ingin memperbesarnya agar bisa melihat wilayah itu lebih dekat. Ketika Awliyaullah bicara dan kalian masuk ke dalam gua awliyaullah, jika memasukinya dengan kepercayaan penuh maka kalian bisa memperbesarnya. Karena Awliyaullah akan memperbesar kalian sampai ke hadirat Rasulullah SAW. Semakin banyak Awliyaullah memperlihatkan kepada kalian pembesaran itu, semakin dekat kalian mencapai hadirat Rasulullah SAW.

Tidaklah mudah memperbesar, sangatlah sulit. Seorang wali harus bertanggung jawab atas semua muridnya agar dapat mendekatkan mereka ke hadirat Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW harus mengemban tanggung jawab dan kesulitan Ummat, agar dapat mendekatkan mereka ke dalam Hadirat Ilahiah. Ketika Mawlana Syaikh berkata, "Kirimkan cintaku kepada mereka," artinya: Apabila seseorang mencintai orang lain, maka dia akan peduli terhadapnya. Jika kalian mencintai anak kalian, maka kalian peduli akan mereka. Kalian tidak bisa berkata: "Oh, saya mencintai anak saya" tapi ketika anak sakit, kalian berkata, "Saya tidak peduli." Kalian akan menjaganya sepanjang malam. Dimata Awliya, kita adalah anak-anak. Meski kita berjenggot panjang, jenggot kita berwarna hitam, putih atau merah ... Kita masih anak-anak dimata awliyaullah; Awliyaullah harus memikul masalah dan kesulitan kita.

Suatu saat, Grandsyaikh (semoga Allah merahmati ruh beliau) berkata bahwa Wali membutuhkan muridnya. Jika tidak ada murid, tidak ada wali. Beliau mengatakan hal itu untuk memperlihatkan seberapa berat memikul tanggung jawab. Beliau berkata, "Mengapa seorang wali menjadi wali, jika dia tidak punya murid? Murid menjadikannya wali... Allah SWT membuka hatinya –apapun yang mereka butuh untuk mendengar dan apapun yang mereka butuhkan- agar dapat bertambah baik dan terus maju. Itulah mengapa sangatlah penting bagi seorang wali kalau berbicara harus mencapai hati muridnya. Dan kita harus penuh perhatian karena beliau memikul kita; beliau sedang membuka hati kita. Jika tidak membuka hati kita untuk menerima beliau, kita berada dalam masalah. Bukan masalah bagi beliau, tapi kitalah yang akan bermasalah.

Sayyidina Abdul Qadir Jilani (semoga Allah merahmati ruh beliau), mempunyai seorang khalifah yang sudah tua. Beliau belajar dari
Sayyidina Abdul Qadir Jilani tentang kerendahan hati (tawadhu'). Karena dalam thariqah, hal terpenting adalah tawadhu', rendah hati. Tawadhu atau rendah hati artinya kalian tidak memberikan kesempatan kepada ego kalian untuk merasa bangga atas diri sendiri. Rasulullah SAW adalah orang yang paling tawadhu'. Apakah yang Allah SWT katakan mengenai beliau dalam Kitab Suci al Qur'an? Karena Rasulullah SAW sedang mencari Samudeta Pengetahuan yang Allah SWT telah bukakan kepada beliau pada malam Isra' wa-l Mir'aj:

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Qul lau kaanal bahru midaadal li kalimaati rabbii la nafidal bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii wa lau ji'naa bi-mitslihi madadaa
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).
[Al Kahfi (18):109]

Ketika melihat Samudera Pengetahuan tersebut, beliau berujar:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ

Qul: Innamaa ana basyarun mitslukum yuuhaa ilayya. Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku ….." [Al Kahfi (18):110]

Rasulullah SAW berkata tentang dirinya sendiri: "Aku ini hanya seorang manusia seperti kamu." Beliau berbeda!

Sebagaimana Imam Busairi (riwayatkan). Apa yang dia riwayatkan tentang Rasulullah SAW? "Bal huwa yakutatun wa naasu ka-l hajari – Beliau adalah sebuah permata tulen, sebuah berlian. Dan manusia lainnya bagaikan batu kerikil, bebatuan!"
Beliau berbeda sepenuhnya, namun beliau merendahkan dirinya. Beliau melakukan Isra' wal-Mir'aj, beliau sudah menjadikan diri beliau lebih tawadhu'. Nah, tugas kita adalah saling memperlihatkan ke-tawadhu'-an.

Ini bukan hanya memperlihatkan ke-tawadhu'-an kepada sang Syaikh. Sangat mudah memperlihatkan ke-tawadhu'-an kepada Syaikh, namun sulit memperlihatkan kepada orang lain. Kembali ke khalifah dari Sayyidina Abdul Qadir Jilani. Kemana pun Sayyidina Abdul Qadir Jilani mengutusnya untuk berdakwah ke desa atau ke perkumpulan yang berbeda-beda, dia duduk dan bicara. Segera setelah dia membuka mulut untuk bicara semua orang mendengarkan. Mereka sangat... mata mereka terbuka lebar. Tidak seperti saya dan beberapa orang lain saat mendengarkan Mawlana bicara, kita malah tidur! Orang mengalihkan pikirannya ke hal yang lain... Namun semua orang mendengarkan khalifah itu bicara, bahkan kalau kamu melempar sebuah pin maka jatuhnya pin itu akan terdengar.

Syaikh itu mempunyai seorang putra. Putranya ini sangat terpelajar dalam Syari'ah Islam. Sang anak tahu tafsir Kitab Suci al Qur'an, tafsir dari hadis-hadis suci, hafal Kitab Suci al Qur'an, hafal hadis, tahu dengan detil Syari'ah. Dia melihat dirinya sendiri. Tiap kali Syaikhnya, yang tidak lain ayahnya sendiri, duduk dan bicara. Semua orang mendengarkan dan sang anak berkata dalam hati, "Oh, coba kalau saya yang bicara? Tentu sajasaya lebih terpelajar dibandingkan ayah, lalu semua orang tidak hanya akan terbuka matanya tapi hatinya turut terbuka ketika mendengarkan ucapan saya dan semua orang akan menghargai apa yang saya katakan!"

Sang ayah mengetahui "penyakit" anaknya ini. Apa yang dia lakukan? Dia berkata, "Oh putraku! Aku sakit minggu ini. Minggu yang akan datang kau pergi dan bicaralah! Pergi dan berikan sebuah sohbet." Dia sangat senang, tidak menyangka akan memberikan sebuah sohbet kepada banyak orang. Dia pun beranjak pergi dan duduk dikursi yang biasanya digunakan oleh sang ayah. Sedangkan sang ayah berada diruang lain, menyembunyikan diri, mengamati apa yang akan terjadi. Sesaat sang anak mulai memberikan sohbet –dia seorang 'alim, seorang 'alim besar pada zamannya –seperti sekarang bila kita menghadiri konferensi- saya sering menghadiri konferensi dan melihat orang seperti itu- profesor atau pembawa acara memberikan sebuah presentasi dan sebagian besar hadirin tertidur. Tidak seorang pun mendengarkan karena mereka merasa bosan. Nah, mengapa mereka bosan? Ada rahasianya disini.

Dan rahasia dalam cerita ini adalah meski sang anak seorang yang 'alim, tapi tatkala dia mulai bicara, semua orang tertidur. Jadi, dia terus bicara dan melihat: sebagian besar pendengarnya tertidur. Dia sangat terkejut. Dia pun segera menyelesaikan sohbet dan menghadap kepada sang ayah. Dia bertanya: "Oh ayahku, apa yang terjadi? Saya lebih terpelajar dibandingkan dengan ayah, saya tahu lebih banyak dibandingkan dengan ayah. Saat saya bicara, semua orang tidur. Ketika ayah bicara, semua orang terbuka mata dan hatinya. Apa yang terjadi?"

Sang ayah menjawab, "Oh putraku! Itulah permasalahan ulama saat ini (pada masa itu), kaum ulama sangat bangga akan diri mereka. Mereka sombong. Ketika aku duduk untuk memberikan sohbet, pesan yang sedang aku sampaikan kepada semua orang datang dari hati Sayyidina Muhammad SAW. Jadi, ketika bicara akulah pendengar pertama yang mendengarkan apa yang aku katakan. Akulah murid pertama yang duduk disana; aku tidak memandang diriku sebagai wakil dan aku tidak memandang diriku sebagai 'alim; aku memandang diriku yang paling kurang diantara semua orang, yang terendah diantara mereka. Itulah ke-tawadhu'-an yang harus dipraktekkan saat kau mulai memberikan ceramah. Bila tidak, kau akan membuat semua orang merasa bosan."

Jadi, ketika kita bersama Mawlana Syaikh Nazim mendengarkan sohbet. Ketika beliau bicara kepada kita, maka kita harus pastikan bahwa mata, telinga dan hati kita terbuka karena kita tidak hanya duduk dihadapan Awliyaullah saja. Pada kesempatan itu hadirnya Awliyaullah adalah hadirnya Rasulullah SAW. Bagaimana kita harus duduk? Bagaimana para Sahabat duduk dihadapan Rasulullah SAW adalah cara murid harus duduk, mencontohnya. Meski tidak seorang pun mampu meraih tingkat para Sahabat dan wali tidak bisa meraih tingkat Rasulullah SAW, namun kita harus mencontoh cara mereka agar kita mampu meraih apa yang ingin kita raih.

Dan itulah mengapa saya telah mengatakannya disatu waktu sebelum ini bahwa: Semua orang yang masuk ke dalam gua akan selamat. Ketika masuk ke hadirat gua Mawlana Syaikh, kita selamat. Itulah mengapa terakhir kali mengenai Grandsyaikh. Ketika Grandsyaikh diminta untuk mengemban tanggung jawab sebagai pembimbing, irsyad. Grandsyaikh berkata kepada Syaikh Sharafuddin – saya menyingkat cerita ini -, "Apakah manfaat bila saya menerima khilafah dari anda padahal saya tahu bahwa para murid saya tidak akan melakukan apapun? Mereka menjadi malas; tidak melakukan apa-apa kecuali ibadah wajib dan hanya itu saja! Jadi, jika anda memberikan saya otoritas dimana siapapun yang duduk bersama saya, saya akan menaikkan dia hingga menjadi satu tingkat dengan tingkat saya maka saya akan menerima irsyad!"

Itulah sebuah kabar gembira bagi kita semua: rahasia itu adalah bersama Mawlana Sultanu'l-Awliya Sayyidi Syaikh Muhammad Nazim Adil al Haqqani - semoga Allah SWT memberi beliau panjang umur.

Ketika kita duduk bersama beliau, beliau menaikkan kita bagaikan sebuah lift. Awliyaullah menaikkan para muridnya hingga sama dengan tingkat mereka sendiri. Jangan pikir Syaikh akan menerima seseorang yang akan berada dirantai oleh tangan setan. Seperti seorang jenderal militer yang tidak akan membiarkan seorangpun dari prajuritnya menjadi tawanan musuh, Awliyaullah tidak akan membiarkan para muridnya menjadi tawanan dalam tangan-tangan setan. Rasulullah SAW tidak akan membiarkan Ummahnya menjadi tawanan dalam tangan-tangan setan. Allah SWT tidak akan membiarkan satupun hamba-Nya menjadi tawanan dalam tangan-tangan setan. Itulah mengapa Ummatun-Nabi SAW ummatu marhamma akan dikirim ke Surga!

Jadi beliau mengatakan, "Aku kirimkan cintaku kepada mereka," yang artinya, "Aku mengurus mereka. Memberitahukan agar mereka tidak usah kuatir. Dan aku memberikan mereka dukungan." Artinya kita diberi dukungan. Banyak orang mengatakan kalau Mawlana sakit, kita tidak perlu berkunjung. Jangan, jika hati kalian berkata, "Datang!" maka datanglah. Sudah cukup datang kepada maqam. Maqam ... kehadiran beliau disini tidak bisa disingkirkan. Allah SWT memberi kita kehormatan dengan menjadi pengikut Mawlana dan bagian dari Ummatun-Nabi SAW.

Beliau juga berkata, "Beritahukan kepada mereka bahwa tahun ini adalah tahun penuh peluang." Apakah arti dari "tahun penuh peluang"? Satu tahun penuh peluang artinya "Jangan biarkan satu peluangpun berlalu tanpa kalian memperoleh keuntungan darinya." Itulah mengapa mereka terlalu banyak menggunakan kata "peluang" dalam dunia keuangan, makelar, pasar saham. Artinya, "Jangan biarkan satu saham berlalu saat kamu dapat melihat ada satu keuntungan dari saham itu, ini sebuah peluang, rebutlah!"

"Tahun ini adalah tahun perdagangan" ujar beliau, "dengan Allah SWT. Karena ini satu tahun yang penuh dengan kesulitan, pembalasan dendam dan hukuman."

Jadi, inilah tahun penuh peluang bagi mereka yang merendahkan diri mereka; bagi yang melakukan awraad; yang melaksanakan ibadah-ibadah; yang berusaha menaikkan diri mereka dalam melawan hasrat dari ego-ego mereka! Bagi mereka inilah kesempatannya! Jangan biarkan kesempatan dan peluang ini hilang terutama pada tahun ini! Dan beliau mengatakan, "Tahun ini akan menjadi tahun yang sangat sulit bagi kekuatan-kekuatan setan dan tahun yang mudah bagi kaum beriman!"

Semoga Allah SWT menjaga dan menjadikan kita beriman dengan berkah Syaikh kita yaitu Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani, dan dengan berkah-berkah dari Sayyidina Muhammad 'alaihi afdala ash-shalaat was-salaam.

Wa min Allah at Taufiq

Monday, November 17, 2008

Bahaya Ghibah

Bahaya Ghibah
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Jakarta, 2003


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kalian semua harus memakai turban. Lihat! Ia memakai turban, di mana turbanmu? Ambil!

Kalian mendengar suara kucing itu? (kucing yang sedang berkelahi). Inilah yang terjadi bila kita bertengkar satu sama lain, bahkan lebih buruk daripada itu. Malaikat mendengar suara itu, demikian pula dengan awliya. Kalian lihat bagaimana mereka saling berteriak satu sama lain.

Hadis dari Rasulullah SAW berbunyi, “Barangsiapa yang mengunjing saudara atau saudarinya, siapapun yang saling menggunjing… bau dari gunjingan itu sangat berbahaya.” Oleh sebab itu Rasulullah SAW melarang keras bergunjing.

Suatu waktu, Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS memberi gambaran tentang gunjingan. Beliau berkata bahwa ketika seseorang meninggal dan ia dimasukkan ke liang kuburnya, apapun gunjingan yang telah diperbuat selama hidupnya, berapa banyak ia menggunjing, Allah SWT membawa gunjingan itu kembali padanya dalam wujud bau busuk. Bila selama hidupnya ia telah menggunjing sebanyak 100 kali, ia akan membawa 100 bau; bila 200—200 bau dan bila sejuta gunjingan—ia akan membawa sejuta bau ke dalam kuburnya.

Allah SWT membawa bau itu kembali ke kuburnya dan Grandsyekh berkata bahwa jika Allah SWT melepaskan satu bau dari bau-bau ini keluar dari kuburan itu, tak satu pun makhluk yang dapat bertahan di bumi ini, manusia dan semua makhluk akan mati bagai terkena reaksi bom atom.

Dan Allah SWT menciptakan binatang buas dari bau itu yang akan menyerang mayat yang terbaring di sana. Bagaimana kalian membayangkan keadaan orang itu jika satu bau saja yang bila dilepaskan ke dunia, semua makhluk akan tewas. Bagaimana dengan jutaan bau yang dikirimkan Allah SWT kepada mayat di kuburnya. Bagaimana efek yang terjadi kepada orang yang jiwanya dikembalikan ke tubuhnya selama ia berada dikuburnya. Ia akan berada dalam hukuman dan siksaan dalam kubur dari bau itu dan dari binatang yang diciptakan Allah SWT dari bau itu.

Dan Grandsyekh bercerita bahwa suatu ketika beliau pergi menuju makam Sayyidina Muhyiddin Ibnu Arabi QS di Jabal Qasyun mengendarai kereta kuda (pada waktu itu, jauh di masa lampau). Beliau dan seorang Syekh lainnya yang biasa dipanggil ‘Abdul Wahab Salahi duduk di kereta kuda pergi ke makam Sayyidina Muhyiddin Ibnu Arabi QS. Tiba-tiba muncul seseorang yang menghentikan kuda yang menarik kereta mereka dan orang itu berkata, “Assalamu’alaykum!” Mereka membalas, “Wa alaykum salam!” lalu ia berkata lagi kepada keduanya, ia mengarahkan pembicaraannya atau ucapannya kepada ‘Abdul Wahhab Salahi dan melihat kepada Grandsyekh, Syekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS, “Apakah ia Syekhmu? Atau engkau Syekhnya?” ‘Abdul Wahhab Salahi menjawab, “Ia bukan Syekhku dan Aku bukan Syekhnya.” Tiba-tiba orang itu menghilang. ‘Abdul Wahhab Salahi menoleh ke sana ke mari, “Ke mana ia pergi?” “Ia muncul dengan tiba-tiba dan tiba-tiba menghilang. Ia tidak berada di sini lagi.” Awliya menampakkan dirinya kepada orang-orang yang tulus. Grandsyekh dan ‘Abdul Wahhab Salahi, keduanya adalah orang-orang yang tulus sehingga awliya menampakkan dirinya kepada mereka. Tetapi sekarang orang-orang berkata, “Mana awliya… mana?” Khususnya mentalitas baru ini di mana mereka tidak percaya kepada karomah. “Di mana awliya…?” Kalian jatuh ke dalam lubang yang penuh dengan kotoran dan kalian berkata, “Mana awliya?” Bagaimana mungkin kalian akan melihatnya? Kalian harus menjadi orang yang tulus untuk bisa bertemu dengannya.

Mereka bertanya kepada Ibu Firdaus, “Di mana awliya? Apa itu awliya? Kami tidak melihat apa pun.” Mereka bertanya kepada kalian, “Mana…mana awliya, kami tidak melihat apa-apa.” Karena mereka tidak percaya, awliya tidak akan menampakkan dirinya kepada mereka. Awliya tidak akan menunjukkan keajaibannya kepada mereka, tetapi kepada orang-orang yang percaya, seperti Ibu Firdaus, seperti Anda dan seperti orang-orang yang hadir di sini, mereka akan menjumpai keajaiban dalam setiap gerakan yang dilakukan oleh Syekh.

Ketika Saya masih muda, setiap gerakan dari Grandsyekh Syeikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS dan Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS ketika itu, ketika Saya masih sangat muda… dalam setiap gerakan mereka, Saya melihat karomah.

Karena ketika kalian mempunyai keyakinan, mereka akan memperlihatkannya kepada kalian. Ketika kalian yakin dengan apa yang kalian kerjakan, mereka akan memperlihatkannya (karomah-red) kepada kalian. Bila kalian tidak mempunyai keyakinan seperti ini, untuk apa mereka menunjukkannya kepada kalian. Sebab kalian tidak menghargai berlian, awliya hanya akan memberi kalian permen dan kalian sudah puas dengan itu. Mereka tidak memberi kalian gula, melainkan pemanis buatan yang berkalori rendah, tidak berenergi, tidak berarti apa-apa. Barang siapa yang sakit, ambilah pemanis buatan itu, kalian tahu, ini tidak akan membuat gemuk. Tetapi bagi mereka yang kuat, awliya akan memberikan gula yang berenergi, artinya mereka memberi dukungan penuh kepadanya.

‘Abdul Wahhab Salahi adalah seorang yang tulus, mukhlis sehingga wali muncul ke hadapannya; tetapi ia belum mencapai tingkat yang sempurna, sehingga ketika ia mengatakan, “Ia bukan Syekhku dan dirinya pun bukan Syekhnya,”--wali itu langsung menghilang, tidak menyukainya. Ia berkata, “Wahai Syekh ‘Abdullah QS! Orang itu menghilang… siapa dia?” Syekh ‘Abdullah QS menjawab, “Tidak! Orang itu tidak menghilang, ia masih berdiri di sana… buktinya lihat! Ia menarik kuda itu dan sekarang menggerakkan kereta. ‘Abdul Wahhab Salahi melihat kuda itu bergerak, tali kekangnya tertarik tetapi ia tidak melihat orang yang menariknya…dan kereta pun berjalan.

‘Abdul Wahhab Salahi berkata, “Mengapa ia lenyap?” Syekh ‘Abdullah QS menjawab, “Ia tidak menyukai ucapanmu.” Syekh ‘Abdullah QS juga berkata bahwa para wali sangat suci, bila mereka mencium bau sedikit saja, mereka akan menghindar. “Ketika kau mengatakan bahwa engkau bukan Syekhku dan Aku bukan Syekhmu—ia mencium adanya aroma kesombongan dari ucapanmu, dari situlah ia menghilang. Dan ini bukan gunjingan. Ini hanyalah ucapan biasa yang dapat diucapkan oleh siapa saja, namun tetap saja ucapan itu mengundang bau busuk di hadapan awliya. Apa salahnya jika engkau berkata, ‘Ya ia adalah Syekhku,’ apa ruginya? Engkau tidak kehilangan apa-apa, kau melangkahi egomu… tetapi karena kesombongan diri, kau berkata, “Tidak, ia bukan Syekhku.” (Sebab ‘Abdul Wahhab Salahi berkata, “Syekhku dan Syekhnya adalah satu, yaitu Syekh Syarafuddin QS.” Apa salahnya untuk bilang bahwa ia adalah Syekhku, apa ada masalah?

Jika mereka bertanya kepadamu, “Apakah Berny Syekhmu?” “Ya, ia adalah Syekhku,” apa ada masalah? Jika mereka bertanya kepadamu, “Apakah Bubby Syekhmu?” “Ya, ia adalah Syekhku.” Jika mereka bertanya kepada Saya, “Apakah Haji Mustafa, Pak Mus adalah Syekhmu?” “Ya, tentu saja, Saya mencium tangannya dan Saya mencium kakinya.” Tidak ada masalah!

Bau dari percakapan tadi membuat wali itu pergi. Bagaimana menurut kalian, bila kita sedang salat dan mengucapkan “Allahu Akbar” lalu ratusan dan ribuan khawatir, gosip yang dibisikkan Setan ke telinga kita dan kita memikirkannya, “Oh, Mustafa adalah orang yang tidak baik, Oh Berny yang paling buruk, Oh Bubby gila, Oh Bapak dan Ibu Firdaus… Aku tidak mau makan dari makanan mereka. “ Ini dan itu… dan orang-orang mulai mempunyai gosip dalam pikirannya. Bagaimana malaikat akan membawa salatmu kepada Allah SWT, jika mereka pergi karena mencium bau (busuk) ini? Artinya salat kalian tetap berada di tempat, tidak diterima (oleh Allah SWT)… ia hanya diterima sebagai ibadah fardu, artinya kalian memang mengerjakan kewajiban kalian… tetapi itu tidak diterima sebagai ibadah yang sempurna. Ia tetap berada di tempatnya. Untuk itulah kita harus berhati-hati agar tidak membawa isu-isu yang telah terjadi sebelumnya dan menyebarkannya mulai dari satu kepada yang lain sehingga menjadi gunjingan.

Allah SWT adalah as-Sattar, Maha Menyembunyikan. Allah SWT Maha Mengetahui segala perbuatan kalian, baik maupun buruk. Dan Dia tidak melepaskan atau membukanya kepada orang lain. Dia melindungi dan tidak membiarkan kalian terekspos bagi orang lain. Tetapi manusia adalah seburuk-buruk pembuka aib orang lain. Grandsyekh melukiskan mereka bagaikan seekor lalat hitam yang selalu pergi ke tempat-tempat yang kotor. Di mana ada sampah, di mana ada kotoran, di mana ada WC, toilet, dan apa pun yang kotor kalian akan menjumpai lalat-lalat ini beterbangan. Seperti halnya surat kabar dan majalah-majalah ini. Mereka mengejar setiap orang, menggoyang hidupnya, apa yang mereka lalukan terhadap istrinya,… ia menipunya… ia tidak menipunya… ia nikah 10 kali, 100 kali, 5 kali… apa saja usaha mereka… apa yang mereka lakukan… mereka sangat senang mengambil apa saja, bahkan sampai hal-hal yang terkecil untuk menciptakan fitna dan kebingungan di negri ini.

Grandsyekh memberi contoh (semoga Allah SWT mensucikan jiwanya ketika menerangkan hal ini). Beliau berkata bagaikan kalian mempunyai hewan-hewan ternak di ladang kalian, kalian mempunyai biri-biri, lembu dan hewan lainnya di ladang kalian kemudian kalian melihat kebun tetangga kalian dan berkata kepadanya, “Lihat! Banyak nyamuk di pohon-pohon kalian,” sementara itu kalian melupakan ladang kalian sendiri di mana binatang buas menerkam dan memangsa semua biri-biri dan lembu dan kalian memperhatikan nyamuk-nyamuk yang terbang di kebun tetangga kalian.

Jadi kalian harus mengetahui bahwa gunjingan semacam ini adalah dilarang. Dan jika kita sanggup, kita akan terus menggunjing semua orang bahkan sampai Nabi Adam AS. Ini adalah tabiat alami manusia dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri kalian dari gunjingan ini adalah melalui disiplin tarekat, di mana kita diharuskan untuk membaca “Ya Shamad” 500 kali setiap hari (setelah salat syukur—red).

Mereka berkata, “Mengapa kalian membutuhkan pemandu, seorang Syekh?” Seorang Syekh adalah pembimbing kalian, ia akan mengatakan kepada kalian apa yang harus kalian lakukan dan bagaimana cara menghindari gunjingan seperti ini, kalau tidak kalian akan lihat bahwa setiap orang saling menggunjing satu sama lain. Sekarang, orang-orang dengan keyakinan tertentu bertanya, “Mengapa kalian memerlukan seorang Syekh? Mengapa kalian membutuhkan pembimbing?” Bagaimana kalian akan mempelajari hal-hal seperti ini tanpa seorang pembimbing, seorang Syekh? Kalian akan tetap menggunjing orang lain.

Semoga Allah SWT memaafkan kita, semoga Allah SWT memberi dukungan kepada kita, semoga Allah SWT membimbing kita ke jalan yang benar, jalur yang benar dari sunnah Nabi SAW.

Rabbanaa taqabbal minna bi hurmatil habib bi hurmatil faatiha. Taqabballaah.